Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Wikipedia vs Britannica

Wednesday, 29 October 2008

Jimmy Wales merasa yakin bahwa dunia internet akan menciptakan perubahan besar dalam hidupnya. Dengan keyakinan yang tinggi, uang sebesar $ 120.000 dibenamkan untuk membuat sebuah web dengan nama Nupedia di tahun 1998. Apa konsepnya? semua orang yang merasa dirinya sebagai pakar, boleh mengirimkan artikel. Tapi, sebelum artikel bisa dibaca, harus melalui proses review yang panjang untuk menjaga kualitasnya. Sebuah gagasan yang masuk akal dan sungguh bagus.

Apa hasilnya, setelah satu tahun? Nupedia hanya menghasilkan 24 artikel. Dengan jumlah pengunjung situs yang sangat sedikit, dapat dipastikan bahwa Nupedia tidak akan memperoleh banyak pendapatan. Sebagai seorang entrepreneur, Wales sadar akan kesalahan bisnis model yang dibangun.

Wales akhirnya mengubah pola webnya sesuai dengan anjuran Ward Cunningham, kawan dekatnya. Situs dibuat terbuka untuk publik yang ingin mengisi. Dalam 1 bulan, maka masuklah 200 artikel dan setahun kemudian, sudah lebih dari 18.000 artikel yang bisa diakses dari situs ini. Mulailah, sebuah situs dengan Wikipedia muncul dalam jagad internet.

Hari ini, tidak ada situs yang diakses lebih banyak dari Wikipedia. Situs ini, memiliki lebih dari 1 juta anggota yang siap untuk menambah dan mengedit untuk topik apapun. Dari sekitar 1 juta anggotaWikipedia, diperkirakan sekitar 100 ribu yang tergolong aktif. Mereka secara sukarela, melakukan penambahan dan proses edit untuk topik yang menjadi kompetensi mereka.

Pada saat Wales memiliki 5 orang karyawan, maka panjang Wikipedia ini, sudah 10 kali lipat dari kamus pintar dunia yang sudah dikenal yaitu ensiklopedia Britannica. Sungguh mengagumkan? Lalu, apa yang membuat ratusan ribu editor ini mau meluangkan waktunya untuk hal seperti ini? Bukankah mereka tidak digaji? Saya yakin, sebagian karena merasa bahwa mereka melakukan hal ini oleh karena kesenangan belaka. Mereka yang berhati mulia akan mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan sosial. Sebuah pekerjaan yang membuat orang lain lebih terinformasi dan lebih cerdas.

Memang, 3 tahun pertama sejak Wikipedia ini diluncurkan, banyak kritik yang ditujukan oleh karena kualitas informasinya yang penuh kesalahan.

Lama kelamaan, bukti yang menunjukkan bahwa Wikipedia memiliki kualitas yang relatif baik terlihat. Majalah ternama, Science, pernah membuat sebuah studi yang membandingkan kesalahan yang terdapat di Wikipedia dan Britannica. Dari 42 artikel yang dibandingkan, Wikipedia dinyatakan memiliki 4 kesalahan dan Britannica sebanyak 3 kesalahan. Pihak Britannica merespon studi ini dan mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh Britannica relatif kecil dan tidak berarti.

Wikipedia menyatakan bahwa semua kesalahan di Wikipedia, jauh lebih cepat diperbaiki. Terdapat ribuan editor yang sudah siap untuk melakukan koreksi dalam hitungan menit. Untuk Britannica, kesalahan ini hanya dapat diperbaiki saat eksiklopedia ini dicetak ulang lagi.

 

Wikinomics

Kesuksesan dari Wikipedia telah memberi pelajaran yang baru. Inilah era dimana konsep kolaborasi semakin mengkristal. Wikipedia telah mengajarkan bahwa inilah cara yang cepat, dinamis dan murah. Bagi Wales, dunia semakin terbuka. Tokoh ini, sudah bermimpi untuk menerbitkan banyak buku untuk sesuatu yang spesifik. Para editor, akhirnya dapat menikmati hasil bersama dari laba yang dibuat oleh perusahaan. Konsumen, telah berkolaborasi menjadi bagian proses produksi dengan cara yang mengagumkan.

Wikipedia bukanlah contoh satu-satunya dari kehebatan akan kekuatan kolaborasi dari para konsumen.YouTube adalah contoh lain yang fenomenal pula. Bagaimana sebuah perusahaan yang tidak lebih dari 1 tahun telah bernilai lebih dari Rp 1 triliun. Facebook adalah salah satu contoh lagi dari deretan kolaborasi ini. Sebuah situs yang fenomenal ; mampu menghubungkan jutaan manusia di seluruh muka bumi dengan cara yang unik.

Konsep kolaborasi ini telah membuat dunia pemasaran menjadi berbeda. Marketing yang tradisional akan berfokus kepada konsep untuk mengontrol konsumen. Perusahaan mampu untuk memerintah konsumen untuk bertindak seperti yang mereka inginkan. Ini dapat dilakukan dengan cara beriklan ataupun aktifitas pemasaran lainnya. Perusahaan percaya bahwa attitude dan perilaku konsumen dapat diprogram dan diperintah seperti tertuang dalam strategi positioning perusahaan. Perusahaan terus berupaya untuk memberikan value yang terbaik kepada konsumennya.

Apa yang diajarkan dalam collaborative marketing? perusahaan seperti Wikipediafacebook danYouTube percaya bahwa kita perlu untuk menghubungkan konsumen dan melakukan kolaborasi. Perusahaan tidak mampu untuk memberikan perintah kepada para pelanggannya. Perusahaan tidak perlu memikirkan sendirian terhadap value yang harus diberikan kepada para pelanggannya. Konsumentelah menjadi mitra untuk menciptakan nilai bagi konsumenlainnya. Istilah kerennya, konsumentelah menjadi co-creator.

Struktur kompetisi sudah pasti menjadi berbeda. Perusahaan yang melakukan aktifitas pemasaran tradisional akan berhadapan dengan para pesaingnya yang juga merupakan perusahaan lain. Dalam konteks collaborative marketing, maka yang bersaing adalah komunitas dengan komunitas lainnya atau ekosistem dengan ekosistem lainnya. Perusahaan cenderung untuk membuat produk yang berkualitas. Komunitas dan ekosistem cenderung untuk membuat pengalaman yang berkualitas.

Perusahaan yang sudah memasuki fase kolaborasi ini, haruslah siap untuk berpikir dalam network. Mereka siap untuk berinteraksi dengan pelanggannya dan terus menerus berdialog. Dengan cara demikian, maka mereka tergerak untuk menjadi bagian dalam proses penciptaan nilai bagi konsumenlainnya.

 

Media Baru

Harus diakui, tanpa ada media yang menjembati hal ini, maka konsep kolaborasi seperti ini, tidak akan terwujud. Media baru ini, yang disebut dengan digital media inilah yang mampu membuat information asymmetry menjadi information democracy. Disebut information asymmetry karena informasi adalah hal yang langka. Konsumentidak terinformasi dengan baik. Sebaliknya, sebuah information democracyadalah situasi dimana informasi sungguh berlimpah. Konsumenmenjadi sangat terinformasi dan mampu mencari informasi mengenai perusahaan dan produk dengan cara yang cepat dan murah.

Digital media bersifat interaktif. Mereka juga disebut sebagai media yang memiliki fungsi sosial yang besar. Digital media adalah media yang sungguh-sungguh kaya. Inilah yang membuat konsumenmenjadi semakin memiliki kuasa dan kewenangan. Inilah yang membuat konsumenjuga mampu menjadi bagian yang aktif dalam suatu proses produksi. Mereka senang terlibat dan mereka mudah untuk diajak terlibat dalam sebuah proses interaksi dan produksi.

Saya sungguh setuju dengan pendapat Sawhney, professor dari Kellogg Business School yang menyatakan bahwa marketing perlu didefinisikan ulang. Marketing adalah sebuah fungsi organisasi dan sekumpulan proses yang adaptif yang mampu membawa organisasi untuk berkolaborasi dengan konsumen untuk menciptakan, men-delivery dan berbagi dengan sesama konsumensehingga membuat perusahaan mampu menciptakan merek dan relationship yang kuat sehingga menghasilkan pertumbuhan perusahaan yang sehat.

Saya yakin, banyak perusahaan yang tentunya belum siap untuk memasuki fase kolaborasi. Sebagian tentu berkilah bahwa industri mereka masih jauh dari pengaruh digital media. Konsumenmasih sangat tradisional sehingga strategi dan pola marketing yang tradisional, masih sangat efektif.

Di satu sisi, tentunya adalah hal yang benar. Mungkin belum saatnya untuk industri tertentu membuat struktur organisasi yang bertujuan untuk mengimplementasikan kolaborasi. Hanya saja, mind-set mereka haruslah siap. Kolaborasi, cepat atau lambat, akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk bertahan di masa mendatang.

Bila tidak, nasibnya akan seperti Britannica. Dengan arogan menyatakan bahwa mereka akan tetap bertahan karena kualitas dan loyalitas. Sejarah sudah mencatat, Wikipedia adalah pemenang sesungguhnya. Welcome to Wikinomics era.

Handi Irawan D.
Chairman of Frontier Marketing Club

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized