Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Pedagang dan Pengusaha

Tuesday, 06 March 2012

Turis yang berkunjung ke China terutama di kota-kota besarnya, akan diantar oleh pemandu wisata di beberapa tempat wisata komersial yang dibangun oleh pemerintahnya. Beberapa diantaranya yang paling favorit adalah demonstrasi pembuatan batu giok, produk dari bahan sutera dan obat-obat tradisional China. Bagi Anda yang sudah sering bepergian ke China, pastilah, tempat-tempat ini sudah sering Anda kunjungi.

Wisatawan dari berbagai negara, akan merasa nyaman dalam berkomunikasi. Mereka yang dari Rusia, akan disambut oleh petugas yang mampu berbahasa Rusia. Demikian pula wisatawan yang dari Amerika, Eropa dan Jepang. Bagaimana dengan Indonesia? Jelas, karena jumlah wisatawan yang semakin meningkat, hampir semua tempat wisata komersial ini menyediakan petugas yang bisa berbahasa Indonesia.

Pemerintah China memang sepertinya, mengharuskan ke biro wisata dan pemandu wisata untuk mengantar turis ke tempat-tempat seperti itu. Apa tujuannya? Pertama, China ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki sejarah panjang dan budaya yang unik. Sutera, batu giok dan obat-obatan tradisional adalah produk-produk China yang sudah dikembangkan ribuan tahun yang lalu.

Kedua, pemerintah China juga ingin meningkatkan citranya. Tempat-tempat seperti ini, dibangun sendiri oleh pemerintah China. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia mengenai pelayanan dan kualitas produk-produk China. Setelah mengunjungi tempat-tempat seperti ini, wisatawan diharapkan memiliki persepsi yang baru terhadap China yang modern dan China sebagai negara tujuan utama turis dunia..

Ketiga, tempat tempat pameran ini, sekaligus adalah toko komersial. Walau wisatawan tidak diharuskan membeli, tetapi cara cara yang digunakan untuk mendemonstrasikan berbagai produk ini, pada akhirnya adalah untuk menjual produk tersebut. Penjualan ini, diharapkan akan memberikan keuntungan. Dan ternyata, sangat menguntungkan! Harga yang dijual relatif premium atau lebih mahal dari produk serupa yang dijual oleh toko-toko di mal atau pasar.

Karena memiliki tujuan komersial, pemerintah China memberikan subsidi kepada biro perjalanan agar mereka mau membaa wisatawan mampir ke tempat pameran tersebut. Keseluruhan subsidi ini, dianggap sebagai bagian dari biaya promosi. Bahkan, mereka juga mendorong pemandu wisata untuk mempengaruhi untuk membeli produk dengan cara memberikan komisi yang cukup besar. Tidak mengherankan, pemandu wisata, biasanya sering mendorong turis untuk membeli produk dengan cara ikut meyakinkan akan kualitas produk yang ada di tempat pameran tersebut.

Tempat-tempat wisata komersial ini, sekali lagi, milik pemerintah atau BUMN. Total perusahaan milik pemerintah di China sekitar 27%, sisanya sebesar 53% adalah milik swasta dan 27% adalah perusahaan asing. Yang menarik, dari segi total output, BUMN China menguasai 45%. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari BUMN tersebut memiliki skala yang lebih besar. Yang mengesankan adalah besarnya laba yang bila dihitung dalam persentase adalah 53%, jauh lebih besar dari perusahaan swasta maupun total laba dari seluruh perusahaan asing dijumlahkan. Kemampuan entrepreurship dari pemerintahnya, membuat mereka mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing.

 

Jiwa Pedagang

Yang menarik bagi saya saat berkunjung ke tempat seperti ini adalah semangat menjual dari para pramuniaganya. Mereka terlihat seperti pedagang tulen yang dengan gigih menawarkan produk-produk tersebut. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia yang biasanya, petugas gugus depannya, tidak memiliki kemampuan untuk menjual dengan baik. Indonesia, relatif baik dalam memberikan pelayanan tetapi tumpul dalam melakukan penjualan.

Tidak mengherankan, banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia, tidak mudah mencari penjual handal. Ini yang sering dikeluhkan oleh banyak CEO dan para Sales Manager. Mencari sosok tenaga penjual yang percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, memiliki semangat yang tinggi dan menguasai produk dengan baik sehingga terasa meyakinkan saat menjual kepada calon pembeli.

Harus diakui, semuanya ini terjadi karena budaya pedagang yang kuat. Perspektif yang melekat dari seorang pedagang adalah keinginan mereka adalah semangat mencari keuntungan dan kepuasan dalan melakukan penjualan. Dengan semangat seperti ini, tidaklah sulit untuk mencari tenaga penjual di China. Yang lebih sulit justru mencari petugas gugus depan yang dapat melayani dengan baik.

Di tingkat perusahaan, China ternyata berhasil membuat sebuah perusahaan dengan sistem dan struktur yang baik. Kelemahan dari seorang pedagang biasanya adalah orientasinya yang ingin mencari keuntungan jangka pendek. Akhirnya, pedagang tidak mampu menjadi pengusaha. Untuk menjadi pengusaha, pedagang kemudian perlu memikirkan kualitas sumber daya manusia, sistem dan proses dalam perusahaan dan sekaligus menciptakan merek yang kuat. Kesemuanya ini, membutuhkan komitmen jangka panjang dan strategi yang cerdas dan bukan saja semangat belaka.

China sudah berhasil mengkombinasikan dalam hal ini. Mereka mampu membuat perusahaan yang tangguh seperti perusahaan-perusahaan global di Amerika, Eropa dan Jepang. Tetapi, mereka juga memelihara spirit sebagai pedagang yang memang sudah terbentuk sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak mengherankan, dalam jajaran gugus depan, semangat sebagai pedagang ini menciptakan penjualan. Sebagai pengusaha, mereka terus menerus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Buktinya, mereka justru membayar gaji pegawai negerinya, lebih besar dari mereka yang bekerja di swasta untuk jabatan yang sama. Tidak mengherankan, mereka mampu mencari karyawan-karyawan yang lebih berkualitas.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized