Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Otentik Ala JOKOWI

Friday, 12 September 2014

Salah satu kata kunci kemenangan Jokowi di Pilpres tahun 2014 adalah otentik! Rakyat menginginkan pemimpin yang otentik. Pemimpin yang apa adanya, asli, konsisten, dan tidak banyak dipoles. Otentik yang dimunculkan Jokowi ini benar-benar ampuh. Maklum, di era dimana pemimpin dan pejabat di negeri ini tidak otentik, maka Jokowi menjadi jawaban. Didukung dengan kepribadian yang simpel dan latar belakang kehidupan yang sederhana, otentisitas Jokowi menjadi fenomenal. Otentik ini menjadi magnet sehingga menciptakan ratusan ribu relawan yang mau aktif mengorbankan waktu dan pikiran untuk menyebarkan berita dari pribadi yang otentik kepada komunitasnya.

Apakah memang dalam dunia marketing, otentik ini sudah dikenal sebagai konsep strategi untuk memenangkan pasar? Rasanya sudah banyak! Apalagi, strategi otentik ini memang sangat bersahabat dengan dunia media sosial. Hanya konten dan cerita yang otentik sajalah yang mempunyai kekuatan viral dan menyebar secara cepat.

Kekuatan Otentik

Apa pun yang berhubungan dengan organik, harganya menjadi mahal. Sayur organik, telur organik, daging organik, hingga beras organik, harganya pasti lebih mahal. Tidak jarang, harganya bisa lebih dari dua kali lipat. Padahal, kalau kita pikir kembali, yang namanya organik adalah justru hal-hal yang alami, karena tidak menggunakan pupuk kimia. Disebut organik karena tidak mengalami rekayasa teknologi pada saat pembibitan.

Demikian pula dengan fenomena hijau. Banyak konsumen yang menginginkan untuk kembali ke hal-hal yang bersifat hijau untuk memelihara lingkungan yang baik. Banyak orang hari ini, ingin agar memiliki rumah yang lingkungannya hijau. Banyak gedung maupun tempat perkantoran mengklaim bahwa lingkungan mereka ramah lingkungan dan hijau alami. Mobil-mobil masa depan adalah mobil yang bersahabat dengan lingkungan.

Acara televisi yang menarik sekarang adalah reality show. Pemirsa menyukainya. Itu karena pemirsa melihat bahwa acara seperti ini memang terjadi di sekitar kehidupan mereka. Mereka yang ada di televisi melakukan acting yang otentik. Tidak ada sutradara canggih dan cerita tertulis yang mengatur alur cerita. Ini adalah tontonan yang otentik!

Fenomena apakah ini? Otentisitas menjadi berharga. Konsumen dan pelanggan menginginkan yang bersifat otentik. Apa alasan dari tren seperti ini? Konsumen sudah mulai semakin mudah mengakses informasi. Konsumen semakin cerdas dan realistis. Konsumen lebih menginginkan yang tidak kompleks dan sebaliknya, mengejar yang simpel. Konsumen tidak ingin semua serba otomatis karena besutan teknologi tetapi ingin lebih humanis. Konsumen ingin lebih memiliki hubungan sosial yang lebih banyak. Konsumen dan pelanggan ingin mendapatkan pengalaman yang otentik.

Fundamen yang mendorong semua ini adalah terlalu banyak yang tidak otentik. Di mana-mana, banyak hal yang tidak otentik yang ditawarkan oleh perusahaan. Kita ke restoran dan disediakan minuman jeruk yang dari sirop; minuman terbuat dari gula, perasa jeruk, dan aroma jeruk. Ini tidak otentik! Kopi yang kita minum dan banyak yang beredar di pasaran, ternyata terbuat dari jagung dengan flavor. Ini tidak otentik!

Kita membeli sabun dan sampo untuk keperluan mandi. Bahan-bahan dari merek yang kita beli adalah deretan produk kimia. Ini adalah produk yang tidak otentik! Kita menonton televisi dan banyak acara yang menarik. Sayang, pertunjukannya tidak otentik! Terlalu banyak yang palsu di sekitar kita.

Setiap minggu, kita sering mendapatkan pesan SMS yang penuh kebohongan, seperti pesan SMS “mama minta pulsa”. Demikian juga, kita sering mendapatkan telepon palsu. Kita pun disuguhi iklan-iklan yang palsu. Banyak barang palsu di sekitar kita, apalagi di pasar Indonesia.

Menciptakan yang Otentik

Maka, muncullah banyak produk dan pelayanan yang otentik. Gilmore dan Pine, pakar dalam bidang experience economy dan authenticity, memberikan penjelasan panjang lebar soal otentik. Ulasannya sungguh menarik dan layak menjadi bacaan para marketer.

Untuk semua tahapan ekonomi, otentik bisa muncul dan menjadi point of difference yang demikian efektif. Untuk produk-produk komoditi, konsumen senang dengan hal yang otentik. Perusahaan sangat memerhatikan bahan bakunya harus asli dan alami. Mereka mengklaim, misalnya, hanya menggunakan buah asli dalam campuran produk mereka. Buah yang mereka tanam, tidak mengandung pestisida.

Untuk industri consumer goods, banyak hal otentik yang dapat ditawarkan. Mereka bisa mengatakan bahwa inilah formula otentik mereka. Sebagian dari produsen produk-produk makanan yang telah diproses, berusaha untuk mengomunikasikan bahwa mereka masih mempertahankan resep para pendirinya yang otentik. Untuk industri jasa seperti restoran misalnya, banyak pemilik yang mempertahankan dekor, tema, dan konsep bangunan yang otentik. Restoran Bebek Tepi Sawah di Ubud misalnya, memiliki dekor yang sesuai dengan nama restorannya. Sariayu, Mustika Ratu, dan Wardah adalah contoh-contoh merek kosmetik yang bertahan di Indonesia. Mereka adalah pelopor untuk mempertahankan apa yang otentik bagi Indonesia.

Banyak sumber atau elemen untuk menciptakan otentisitas bagi perusahaan atau sebuah merek. Ini bisa bersumber dari apa yang menjadi budaya dan etika dari perusahaan. Mereka membiarkan agar konsumen dan pelanggan mengetahui persis budaya dan etika perusahaan apa adanya. Elemen untuk menjual otentisitas bisa berasal dari sejarah perusahaan atau di mana dia berasal. Di Amerika, Starbucks banyak menceritakan mengenai bagusnya kopi yang berasal dari Sumatera. Di Indonesia, mereka menceritakan kopi yang berasal dari Amerika Latin.

Bagaimana kalau perusahaan tidak memiliki sejarah dan asal-usul yang menjadi elemen dari otentisitas? Masih banyak yang bisa dipertimbangkan. Menjadi otentik bisa dilakukan dengan mengatakan intensitas dan tujuan perusahaan membuat produk tersebut.

Salah satu kesuksesan dari UNIQLO di Jepang adalah karena ingin menjadikan pelanggannya otentik. Mereka mengatakan bahwa produk yang mereka jual bukanlah fashion yang membuat orang terlihat baik, cantik, dan ganteng karena produk mereka. Justru mereka ingin mengedukasi bahwa setiap orang haruslah menjadi dirinya sendiri. Kecantikan dan kebaikan berasal dari diri mereka, dan UNIQLO hanyalah alat yang membantu untuk setiap orang mengeluarkan karakter mereka sendiri. Itulah sebabnya UNIQLO menawarkan produk-produk yang basic, dan bukan model-model yang kompleks dan berganti cepat. Mereka tidak menjual fashion, tetapi menciptakan agar pemakai produk mereka menjadi otentik!

Otentik Ala Jokowi

Maka semua teori dari otentik ini sungguh teraplikasikan dengan diri Jokowi. Dia tidak pandai bicara seperti politikus pada umumnya. Tetapi, yang otentik ini, jadi kekuatannya. Mereka bisa kagum dengan gaya bicara Jokowi yang apa adanya. Walau di layar televisi, tetap saja menggunakan gaya bicara yang otentik dan seperti berbicara dengan rakyat biasa, dan tidak peduli dengan sorotan kamera. Tiba-tiba, jutaan orang Indonesia dari berbagai golongan, mulai tambah percaya diri setelah melihat sosok yang sederhana itu menjadi pejabat penting di negeri ini. Setiap orang boleh punya cita-cita. Jokowi menjadi motivator ulung tanpa harus berteriak.

Jokowi adalah sosok yang otentik karena sejarah kehidupannya yang dimulai dari keluarga sederhana dan berjuang menjadi pengusaha. Kalau hal ini, sudah pasti mudah menjadi otentik. Seperti yang telah saya sebutkan, maka elemen otentik lainnya yang kuat berasal dari interest, perilaku, dan tujuan yang akan dicapai.

Jokowi menjadi otentik karena sangat terlihat tidak ingin menjadi penguasa. Orang lain dan partai politik yang ingin menjadikan dia sebagai penguasa. Jokowi tidak terlihat ambisius dan semuanya dianggap biasa-biasa saja. Inilah sumber yang menjadikan Jokowi sebagai pemimpin yang dapat dipercaya. Orang percaya bahwa Jokowi yang naik sepeda atau becak ke KPU, adalah bagian dari kehidupannya yang otentik. Kalau pejabat lain yang melakukan, sudah pasti menjadi bahan lelucon semata.

Jokowi selayaknya mengucapkan terima kasih, di urutan pertama adalah kepada pejabat dan politikus yang tidak otentik. Mereka berjanji mendengarkan rakyat, tapi perilakunya tidak. Mereka ingin membela rakyat, tapi tujuan dan perilakunya tidak mencerminkan demikian. Jokowi menjadi otentik di tengah-tengah banyak yang tidak otentik dan akhirnya menuju ke kursi Presiden.

Saat saya menulis artikel ini, di layar televisi terlihat Jokowi yang mengatakan, “…sekarang baru adaptasi dengan Paspampres… bagaimana cara pengawalannya kalau ingin makan bakso dan sate yang menjadi langganan….” Hanya Jokowi yang otentik yang bisa mengucapkannya karena kekuasaan adalah hal yang biasa saja dalam hidupnya. Tetapi otentisitas ini kelak juga bisa menjadi tantangan terbesar Jokowi saat kelak sudah menjadi presiden. Rakyat ingin konsistensi.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized