Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Open and Success

Monday, 04 October 2010

Li Ning adalah pahlawan bagi negeri China. Inilah olahragawan yang memiliki prestasi yang sangat luar biasa. Di pesta olimpiade tahun 1984 yang diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat, Li Ning menyabet 6 medali emas di cabang senam. Karena prestasinya yang fenomenal dan popularitasnya di daratan China, Li Ning mendapat kehormatan untuk menyalakan obor olimpiade di Beijing pada tahun 2008. Sebuah even yang ditonton oleh lebih dari 1 milyar pemirsa di seluruh dunia.

Apa yang menarik dari sosok Li Ning bagi pelaku bisnis? Li Ning bukan saja berprestasi dalam bidang olah raga. Prestasinya dalam bidang bisnis, sungguh mengagumkan. Dia dapat menjadi representasi dari keberhasilan negeri China dalam kancah bisnis global. Li Ning Company Limited, sebuah perusahaan yang menjual produk aparel olah raga, memiliki jumlah outlet yang mencapai 8000 di seluruh China. Perusahaan ini, sudah memiliki revenue sekitar Rp 10 triliun di tahun 2010. Memang masih kecil dibandingkan dengan Nike atau Adidas, tetapi ini jelas merupakan kesuksesan yang luar biasa. Li Ning, seorang olahragawan sukses, kemudian menjelma menjadi sebuah merek yang sukses.

Di China, terdapat ribuan atau puluhan ribu pelaku bisnis seperti Li Ning. Mereka memiliki kemajuan bisnis yang sangat pesat. Merekalah yang kemudian merubah wajah China di kancah bisnis global. Merekalah yang kemudian membuat Negara China, dari yang tidak diperhitungkan 30 tahun yang lalu, menjadi negara dengan segudang prestasi dan rekor.

Chinaadalah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dan semuanya ini, dicapai dengan kecepatan yang luar biasa. Negara ini adalah pengekspor terbesar di tahun 2010 setelah menggeser Jerman. China memiliki cadangan devisa terbesar di dunia dengan nilai lebih dari US$ 2 triliun. Chinaadalah pemegang surat Treasury Bond Amerika yang terbesar di dunia. China Petroleum & Chemical Corporation, tercatat sebagai perusahaan dengan nilai aset terbesar di dunia. Chinajuga memiliki bank yang merupakan bank terbesar di dunia dari segi nilai kapitalisasi pasarnya, yaitu Industrial and Commercial Bank of China.

Bila demikian, sangat mudah dimengerti bila pelaku bisnis di seluruh dunia, dapat belajar dari China. Memang, tidak semuanya menjadi pelajaran yang relevan karena keberhasilan yang ditorehkan bersifat kontekstual. Selain itu, tidak semua negara di dunia memiliki skala, sejarah, budaya, semangat dan faktor-faktor penunjang lainnya yang mirip dengan negara ini. Walaupun demikian, seluruh pelaku bisnis di dunia sepakat, kesuksesan China akan menjadi sebuah proses pembelajaran yang berharga.

Apa yang menjadi driver kesuksesan China yang fenomenal ini? Tentunya, ada banyak faktor. Semua pelaku bisnis akan mengangguk bila faktor utamanya adalah kualitas pelaku bisnisnya. Mereka memiliki semangat yang sangat tinggi. Rasa percaya diri yang besar bahwa mereka bisa mencapai hal-hal besar. Mereka memiliki jiwa entrepreneurship yang tangguh. Tetapi untuk tulisan dalam edisi ini, saya ingin fokus kepada kebijakan China untuk membuka diri. Seperti yang ditulis oleh Edward Tse, seorang pengamat bisnis China yang mengatakan bahwa faktor terbesar atas kemajuan China ini adalah kebijakan Open China.

 

Open China

Sejarah akan terus mencatat bahwa Deng Xiaoping adalah pemimpin yang memulai semuanya ini. Pemimpin yang menggantikan Mao Zedong, memulai reformasinya sejak kembali dipercaya memegang tampuk pemerintahan. Pada bulan Juni 1979, pada waktu itu, pemerintah China menetapkan kebijakan baru yaitu keinginan untuk memperbaiki daerah rural di seluruh daratan China dan menarik investasi asing. Tentu saja, saat itu, negara itu belum memikirkan untuk berperan dalam perdagangan global. Mereka berpikir bahwa inilah saatnya, rakyat harus mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Mereka mendukung kaum cendekiawan, artis, penulis dan pihak-pihak lain untuk menyatakan pendapat tetapi dalam batas untuk tidak menyerang kebijakan partai.

Mereka sadar, ketertutupan China, telah membuat stagnasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan revolusi kebudayaan yang diluncurkan tahun 1966, telah membuat kemunduran yang besar bagi negara ini. Chinayang semakin terbuka, akan memberikan kesempatan yang besar untuk kemakmuran bangsa ini. Terlepas dari sejarah, budaya dan semangat kerja keras rakyatnya, kebijakan Open China adalah pendorong paling penting bagi perubahan China hingga sekarang ini.

Setelah 30 tahun, keterbukaan China menjadikan negara ini dibanjiri berbagai produk-produk dari seluruh dunia. Konsumen kemudian memiliki pilihan yang demikian banyak. Mereka dengan mudah mendapatkan KFC, Mc Donald, Coca-Cola, Pepsi atau makanan minuman dari Jepang seperti Suntory dan Kirin. Di industri otomotif, dengan mudah dilihat mobil buatan GM, Ford, Toyota, VW, BMW dan merek-merek mobil lainnya. Bahkan dalam bidang media, dengan mudah memperoleh majalah Cosmopolitan atau Vouge.

Sejak tahun 1990 hingga 2008, pasar ritel China bertumbuh sebesar 16 kali lipat, dari nilai US$ 100 milyar menjadi US$ 1.6 triliun. Pasar ponsel meledak. Tahun ini, diperkirakan sekitar 200 juta lebih ponsel terjual di pasar ini, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasar Amerika atau seluruh negara Eropa dijadikan satu. Otomotif mencapai lebih dari 5 juta tetapi memang masih jauh dibandingkan dengan besarnya pasar otomotif di Amerika.

Coca Cola yang masuk kembali ke China di tahun 1979, hanya beberapa bulan setelah Deng meluncurkan kebijakan ekonomi baru, telah menginvestasikan sekitar US$ 1.3 milyar dan akan menginvestasikan sebesar    US$ 2 milyar di masa mendatang. Dengan menjual sebanyak 6 milyar liter, China menjadi pasar Coca Cola ketiga di dunia, setelah Amerika dan Meksiko.

Keterbukaan China ini, telah mendatangkan investasi yang besar di hampir semua sektor industri. Inilah yang kemudian menjadi mesin pertumbuhan ekonomi China.China kemudian menjadi magnet dengan daya tarik yang besar. Mereka melihat kesuksesan VW, KFC, Motorolla dan perusahaan-perusahaan lain yang menjadi pionir dalam melakukan investasi China. Semuanya ini kemudian membuat mereka berpikir agar jangan terlambat untuk juga bermain di pasar ini. Tidak mengherankan, angka statistik investasi langsung di China meroket. Pada tahun 1985, tercatat hanya sekitar US$ 2 triliun dan di tahun 2008 menjadi US$ 92.4 triliun.

Era emas berinvestasi di China sudah mulai redup beberapa tahun terakhir ini. Banyak perusahaan kemudian mulai melihat, investasi mereka kurang optimal menghasilkan profitabilitas. Walaupun demikian, dampak dari investasi ini, adalah makin aktifnya perusahaan–perusahan domestik di China. Bersama-sama dengan perusahaan asing, mereka menciptakan pasar yang semakin membesar. Banyak diantara perusahaan domestik ini, kemudian belajar dari perusahaan asing bagaimana membangun perusahaan yang kompetitif. Dengan semangat kerja keras dan kerja lebih cepat, justru sebagian di antara mereka, kemudian mampu bersaing. Salah satu contohnya adalah sepeti Li Ning Company Limited. Contoh lain adalah perusahaan seperti GoMe, retail elektronik yang sudah memiliki jumlah toko lebih dari 1000 toko di seluruh China.

Tidak pelak lagi, semuanya ini menjadikan konsumen China semakin bergairah. Konsumerisme merambah dari kota-kota besar ke kota-kota yang lebih kecil. Tahun ini, penduduk China yang tinggal di perkotaan diperkirakan sekitar 50%. Pada tahun 1980, hanya 19% saja yang tinggal di perkotaan. Selain 4 kota besar di China, tumbuhlah puluhan kota yang memiliki penduduk sekitar 4 hingga 10 juta. Open China ini, telah membuat perubahan besar dalam struktur pasar regional China.

Perubahan lain akibat kebijakan Open China adalah dalam hal infrastruktur dan distribusi. Untuk menyambut investasi asing dan sekaligus memperbaiki pasar, maka China telah melakukan perbaikan infrastruktur besar-besaran. Pada tahun 1990, panjang jalan tol, tidak lebih dari 200 mil. Saat ini, sudah ada sekitar 40.000 mil jalan tol. Untuk kereta api, telah ditambah sekitar 20.000 mil rel kereta baru.. Sebuah rencana baru yang disebut dengan 7-9-18 telah dicanangkan. Program yang sangat ambisius dan menelan sekitar US$ 250 milyar. Dimulai dengan jalan tol di Beijing sebanyak 7 rute, dan 9 rute di utara dan selatan, kemudian 18 rute yang menghubungkan barat dan timur.

Distribusi dalam bidang ritel juga sudah terlihat nyata. Kehadiran Carrefour dan Wall Mart yang jumlahnya sekitar 150 buah, telah menyulap industri hypermart di China. Anda juga bisa membayangkan perbaikan industri ritel di negara ini melalui KFC yang sudah hadir di 450 kota dengan jumlah outlet sekitar 3000 dan terus masih membuka outlet yang baru.

Inilah pasar global. Kebijakaan China untuk menerapkan Open Policy, telah membuat perubahan besar. China telah memberi pelajaran yang berharga. Sekali lagi, Open China bukanlah faktor kesuksesan yang berdiri sendiri. Kebijakan pemerintah dan kualitas sumber daya manusia, adalah faktor yang juga kritikal. Kita akan membahas di edisi berikutnya.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized