Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Kegagalan Perusahaan Multinasional di China

Monday, 01 August 2011

Banyak perusahaan multinasional yang sukses di Indonesia dan di negara-negara Asia Tenggara. Situasi yang agak berbeda dijumpai oleh perusahaan multinsional di China. Boleh dikatakan, bila ukurannya adalah pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, hanya segelintir perusahaan multinasional yang relatif sukses dibandingkan dengan para pesaingnya yang berasal dari perusahaan negara China atau perusahaan lokal.

Stalk dan Michael dalam artikelnya di Harvard Business Review baru-baru ini menjelaskan bahwa banyak perusahaan multinasional dari Amerika dan Eropa, tidak mengerti benar mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di China dan bagaimana harus bersaing untuk menciptakan keunggulan bersaing. Masih banyak pelaku bisnis dari negara Barat beranggapan bahwa China adalah negara yang hanya mengandalkan kemampuan untuk mengekspor produk-produk yang relatif murah.

Pelaku bisnis Barat tidak memahami bahwa China adalah negara yang melakukan transformasi dengan kecepatan yang sangat cepat. China bukan saja berkembang pesat dengan kota-kota besarnya, tetapi kota-kota sekunder dan pedesaan juga telah mengalami perubahan yang besar. Tayangan dari CNN yang memperlihatkan sisi-sisi kemiskinan China seringkali berlebihan dan menciptakan persepsi yang berbeda dengan kenyataannya. Perubahan populasi rural di China yang pesat telah menciptakan pasar yang besar.

China adalah negara dengan pasar terbesar di dunia untuk sepeda, sepeda motor dan mobil. Demikian juga, China adalah negara terbesar untuk sepatu dan seluler. Bahkan untuk produk-produk yang tergolong mewah, China adalah pasar terbesar di seluruh dunia atau menyerap hampir 20% dari produk-produk luxury dunia. Ini menunjukkan bahwa populasi orang kaya China, bergerak dengan sangat cepat. Unruk beberapa industri seperti elektronik, perhiasan dan internet, China masih menduduki posisi kedua di belakang Amerika. Sangat mungkin, dalam waktu 5 hingga 10 tahun mendatang, semakin banyak industri dimana China adalah pasar konsumen terbesar di dunia.

Ketidakmampuan perusahaan multinasional untuk bersaing dengan China, pada dasarnya terletak pada 3 hal yang besar. Pertama, perusahaan multinasional seringkali terlalu lambat untuk melakukan perencanaan dan eksekusi. Mereka tidak berpikir bahwa China akan berubah secepat itu. Banyak perusahaan multinasional lebih memilih untuk melihat perkembangan dan kondisi terlebih dahulu. Saat pasar bertumbuh dengan cepat, mereka kemudian baru menyadari bahwa mereka tidak siap bersaing dengan perusahaan-perusahaan milik negara atau perusahaan lokal. Hal ini tentunya banyak disebabkan dengan pengalaman perusahaan multinasional di negara-negara Asia lainnya. Mereka memilih untuk melihat perkembangan terlebih dahulu, membiarkan perusahaan lokal untuk berkembang dan pada akhirnya, mereka masuk pasar dengan produk yang lebih baik dan kompetitif. China berkembang lebih cepat dari prediksi mereka.

Perusahaan multinasional seringkali salah memprediksi pertumbuhan China. Akibatnya, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, hanya disiapkan untuk mengakomodasi tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dari sebenarnya. Mereka berharap bahwa pasar bertumbuh sekitar 20% atau 25% tetapi kemudian mereka dikejutkan dengan pasar yang bertumbuh sebesar 50% hingga 80%.

Yang banyak mereka tidak sadari adalah kecepatan pertumbuhan kota-kota kecil di China. Banyak perusahaan multinasional, hanya mempersiapkan kantor dan pemasarannnya di kota-kota yang relatif besar saja. Mereka terlambat untuk memperhatikan kota yang lebih kecil. Akibatnya, banyak perusahaan-perusahaan China lokal yang berukuran kecil, terus mampu menjual produknya dengan baik dan akhirnya menjadi perusahaan besar. Setelah mencapai skala ekonomi dalam produksinya, mereka kemudian memasarkan produk mereka di kota-kota besar dan bersaing head to head dengan produk-produk milik perusahaan multinasional.

Perusahaan multinasional juga seringkali sangat berhati-hati. Mereka dipimpin oleh para top eksekutif yang selalu menghitung resiko investasi. Banyak pelaku bisnis multinasional, sangat profesional tetapi kurang memiliki gaya manajemen seorang entrepreneur. Proses pengambilan keputusan juga menjadi lambat. Ketika berhadapan dengan pelaku bisnis lokal yang bergaya cepat dan cepat menangkap peluang bisnis, mereka menjadi sulit untuk bersaing.

Faktor kedua adalah pemahaman terhadap perilaku konsumen China. Mereka terlalu berlebihan dengan berasumsi bahwa China adalah pasar yang homogen. Mereka adalah satu bangsa yang memiliki preferensi produk yang tidak banyak berbeda, Kenyataannya, pasar-pasar lokal ini memiliki perbedaaan yang cukup signifikan. Seringkali, mereka juga tidak memahami apa yang menjadi kebutuhan konsumen China. Tulisan saya di edisi bulan lalu mengenai kisah sukses KFC adalah contoh sebaliknya. Inilah perusahaan multinasional yang berhasil di China. Keberhasilannya adalah karena kemampuannya untuk mengembangkan menu-menu yang sesuai dengan selera konsumen China.

Faktor ketiga adalah berhubungan dengan persepsi terhadap pemerintah China. Banyak perusahaan multinasional terlalu berlebihan dalam mengutarakan kesulitan saat berhadapan dengan pemerintah China. Para eksekutif dari perusahaan multinasional, seringkali melihat banyak rintangan dalam menghadapi regulasi dan aspek politik dari pemerintah China. Akhirnya, ini membuat motivasi dan proses adaptasi menjadi lebih sulit. Banyak studi justru menunjukkan bahwa ketidakmampuan mereka bersaing dengan perusahaan-perusahaan lokal, bukan karena masalah pemerintah yang mempersulit gerak mereka tetapi memang produk-produk yang mereka tawarkan, tidak kompetitif bagi konsumen di China.

Ketiga faktor ini tidak dijumpai oleh perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia. Mereka sukses karena bersaing dengan perusahaan negara dan perusahaan lokal Indonesia yang lebih lambat. Mereka juga mampu mengedukasi konsumen Indonesia untuk menyukai produk Barat daripada harus terlalu mengubah mengikuti selera lokal. Pemerintah Indonesia juga sangat terbuka dengan perusahaan multinasional dan pelaku bisnis multinasional yang ada di Indonesia juga pandai dalam melakukan negosiasi dengan pemerintah Indonesia. Tidak mengherankan, bagi perusahaan multinasional, Indonesia adalah pasar yang jauh lebih mudah untuk digarap dan dituai.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized