Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Kegagalan Ide

Monday, 07 December 2015

Di edisi yang lalu, Majalah MARKETING mengiklankan bahwa 1 November adalah Hari Inovasi Indonesia. Melalui komunikasi iklan ini, para pelaku bisnis didorong untuk menciptakan budaya inovatif di perusahaannya. Salah satu ciri budaya inovatif, perusahaan memotivasi setiap karyawannya untuk melontarkan gagasan yang kreatif atau ide-ide bisnis yang baru.

Ini sebuah proses yang baik untuk membuat perusahaan bertambah sehat. Tanpa inovasi, perusahaan akan mati, cepat atau lambat. Kenyataannya, banyak perusahaan melahirkan ide-ide yang baik, tetapi setelah sekian lama, hampir tidak ada ide yang dapat diwujudkan. Apa yang menjadi problem perusahaan-perusahaan tersebut sehingga hanya berhenti menjadi pengumpul ide?

Saya yakin, ada dua hal yang belum dilalui dengan mulus oleh perusahaan-perusahaan ini (Pertama, perusahaan atau top manajemen gagal membuat ide ini menjadi suatu strategi yang jelas dan fokus. Kedua, perusahaan tidak memiliki leader yang efektif untuk mengeksekusi gagasan). Perusahaan tidak memiliki leader yang berani mengambil risiko dan memiliki komitmen untuk mewujudkan ide-ide ini.

Membangun Kapabilitas
Kegagalan membuat ide menjadi strategi bisa bersumber dari beberapa hal. Yang paling klasik adalah karena perusahaan tidak mempersiapkan kemampuan atau kompetensi untuk mengeksekusi strategi. Mereka tidak memiliki teknologi dan sistem yang dapat mengubah ide menjadi kesempatan atau karena kualitas manusia yang tidak memadai. Teknologi biasanya disebut dengan hard competencies, dan kualitas manusia disebut dengan soft competencies.

Bagi sebuah perusahaan makanan dan minuman, meluncurkan produk baru adalah hal yang sangat penting untuk menggantikan produk lama yang sudah memasuki tahap kematian dalam siklus. Perusahaan makanan dan minuman yang jarang meluncurkan produk baru tidak akan mampu bersaing dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi perusahaan untuk mengembangkan kemampuan R&D-nya. Saya sungguh yakin—dari pengalaman menjadi konsultan banyak perusahaan yang bergerak di industri makanan dan minuman selama 15 tahun, hanya perusahaan dengan kemampuan R&D yang kuat, akan bertahan dalam jangka panjang. Dalam industri ini, produk yang berkualitas termasuk kualitas rasa dan tekstur, sudah menyelesaikan 50% pekerjaan dari divisi marketing. Good product is good marketing.

Sering kali bagian pemasaran kemudian memiliki segudang ide. Mereka ingin meluncurkan vitamin generasi baru! Mereka ingin membuat minuman yang lebih stabil! Mereka ingin membuat biskuit yang lebih renyah! Mereka ingin membuat kemasan baru, dan sebagainya. Kemudian, semuanya ini tidak terwujud. Sederhana, perusahaan tidak memiliki kompetensi. Mereka tidak membangun R&D yang kuat. Mereka tidak memiliki teknologi yang diperlukan atau tidak punya tenaga periset yang berkualitas. Dalam hal teknologi, bukan berarti perusahaan harus melakukan investasi. Mereka mempunyai pilihan untuk membangun sendiri atau membeli lisensi. Tetapi, semua itu membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang memadai.

Inilah yang sering terjadi di perusahaan makanan minuman skala kecil dan menengah. Mereka tidak mampu melihat strategi yang menjadi kunci sukses dari industrinya. Mereka tidak mampu membangun kompetensi yang memadai. Pada akhirnya, hanya menjadi kolektor dari ide-ide besar.

Dalam industri perbankan, salah satu kunci sukses adalah kemampuan perbankan untuk membangun delivery channel. Nasabah menginginkan pelayanan yang semakin cepat dan nyaman. Sebuah bank bisa saja memiliki puluhan ide besar untuk membuat produk atau layanan yang semakin cepat dan menyenangkan nasabahnya. Ide-ide seperti; bagaimana kalau kita dapat melayani pembukaan rekening secara online? Bagaimana kita dapat mengatasi komplain pelanggan dalam waktu 2 jam? Bagaimana kita dapat bertransaksi antar bank melalui SMS banking? Dan segudang ide lainnya.

Bisa dibayangkan, semua ide tersebut akan berhenti bila bank tidak mampu melihat strategi besar ini sebagai kunci sukses membangun teknologi dan sistem dalam delivery channel. Tidak akan ada ide yang kemudian mampu terwujud menjadi sebuah konsep layanan baru tanpa kompetensi seperti ini. Bank sanggup menangkap ide dan menjadikannya menjadi suatu gagasan strategi bila sudah memiliki kompetensi atau minimal mempunyai kemampuan untuk membangun kompetensi dalam delivery channel. Inilah pentingnya memiliki top manajemen—baik CEO maupun CMO—yang visioner, yang mampu membangun sebuah kompetensi untuk mengubah ide menjadi strategi perusahaan.

Customer Value
Hal kedua yang merupakan penghambat ide menjadi strategi yang siap dieksekusi adalah kemampuan ide tersebut untuk memberikan customer value. Ide dalam dunia bisnis bukanlah sekadar ide besar, ide gila, atau ide-ide yang kelihatannya brilian. Anda boleh punya ide besar dengan membuat sebuah obat tablet yang ukurannya hanya 10% dari yang sekarang sudah beredar. Problemnya, apakah ada konsumen yang menginginkan? Adakah ukuran yang kecil ini akan memberikan customer value, atau justru menciptakan masalah baru bagi konsumen?

Sebuah ATM dapat diberikan fasilitas lagu. Jadi, saat nasabah menarik uang tunai, dia dapat mendengarkan lagu yang menjadi kesukaannya. Sepintas masuk akal. Nasabah akan merasa senang karena mendapatkan tambahan layanan. Namun, apakah nasabah benar-benar menginginkan? Bukankah mereka yang ke ATM biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu? Bukankah nasabah yang mendengarkan lagu di depan ATM kemudian akan membuat antrean semakin panjang dan membuat nasabah lain merasa tidak puas? Sebuah ide yang masuk akal tetapi belum tentu menciptakancustomer value.

Sebuah ide atau gagasan tidak dapat menjadi strategi perusahaan juga karena tidak adanya ekosistem, terutama customer base yang memadai. Tidak mengherankan, banyak perusahaan kecil yang memiliki segudang ide besar tidak mampu mewujudkan ide mereka. Penghambatnya sederhana, yaitu mereka tidak memiliki pasar untuk melempar produk yang akan diproduksi atau layanan yang diciptakan. Pelanggan loyal yang berjumlah banyak adalah sebuah ekosistem yang paling efektif untuk menyerap gagasan besar. Ini membuktikan, pelanggan adalah ekuitas bagi perusahaan yang sangat besar dan sering kali jauh melebihi aset yang tercantum dalam nilai buku perusahaan.

Peran Leader
Kegagalan atau keberhasilan ide untuk diubah menjadi strategi dan selanjutnya dapat dieksekusi berada di tangan para CEO dan jajaran direksinya. Tidak ada ide besar yang terwujud bila perusahaan tidak memiliki pemimpin yang punya “gut” dalam mengambil risiko. Para leader ini sadar bahwa sebuah gagasan besar pastilah memiliki risiko yang lebih besar pula. Walau demikian, mereka berani mengambil keputusan. Itulah ciri pertama dari leader yang mampu mewujudkan ide menjadi kenyataan.

Kedua, untuk meminimalkan risiko yang besar, leader akan memiliki passion dan komitmen yang sangat tinggi. Mereka mempunyai daya tahan yang tinggi untuk mencoba mewujudkan ide tersebut. Leader ini akan terus memberi dukungan kepada tim agar bersama-sama membuat gagasan terwujud. Dia akan sangat menjiwai dan menguasai banyak detail strategi dan eksekusi dari ide besar.

Itulah dua ciri dari leader yang sangat krikal untuk mewujudkan ide-ide besar di sebuah perusahaan. Sebagian leader hanya memiliki salah satu ciri atau bahkan tidak keduanya. Banyak leader yang memilih mencari posisi yang sudah mapan atau lebih memilih melakukan hal-hal yang sudah terbukti memberikan hasil.

Quote:
Pertama, perusahaan atau top manajemen gagal membuat ide menjadi suatu strategi yang jelas dan fokus. Kedua, perusahaan tidak memiliki leader yang efektif untuk mengeksekusi gagasan.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized