Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

CMO Peredam Konflik

Wednesday, 20 July 2016

Divisi perusahaan manakah yang paling banyak memiliki variasi konflik? Tentulah divisi marketing adalah nominasi utama. Divisi lain seperti keuangan dan personalia biasanya juga memiliki banyak konflik, tetapi relatif lebih homogen jenis konfliknya. Divisi marketing, mulai dari level staf hingga direksi atau CMO, memiliki konflik dengan divisi produksi, operasional, R & D, keuangan, sales, atau dengan IT. Divisi marketing adalah divisi yang memiliki interaksi paling banyak dengan departemen lainnya. Bahkan bukan hanya dengan divisi internal, tetapi juga berhubungan dengan banyak mitra di luar perusahaan. Tidak mengherankan, divisi marketing memiliki konflik yang paling bervariasi.

Konflik adalah hal yang biasa dan bisa berdampak positif atau negatif. Dalam tingkat yang sangat kecil, konflik tidak memengaruhi kinerja perusahaan. Setelah tingkat konflik meningkat, justru kinerja perusahaan bisa lebih baik. Gesekan, perbedaan pendapat dan persepsi, membuat problem menjadi lebih jelas. Ini yang kemudian membuat tim menjadi lebih memahami dan memiliki visi yang sama. Konflik yang ter-manage ini sering kali mendorong proses perbaikan dan tiap-tiap divisi melakukan perubahan menuju yang lebih baik.

Tetapi, konflik yang menghebat dan tidak ada resolusinya akan memberi dampak negatif. Produktivitas perusahaan jadi menurun. Motivasi karyawan yang terlibat konflik bisa sangat menurun. Akibatnya, kinerja pasar bisa terganggu dan akhirnya akan memengaruhi kondisi keuangan perusahaan dalam jangka panjang.

Bagi perusahaan manufaktur, maka kawan konflik utama adalah divisi produksi. Divisi marketing melakukan order dan mereka membutuhkan spesifikasi dan kualitas tertentu. Konflik terjadi karena jadwal produksi yang tidak pas dan mereka juga tidak mampu memberikan produk yang sesuai dengan permintaan. Di sisi lain, produksi menghendaki forecast yang detail serta planning yang lebih baik untuk jangka waktu tertentu, tetapi divisi marketing tidak mampu menyediakan karena situasi pasar juga tidak pasti. Marketing menginginkan variasi produk yang banyak karena memang pasar menghendaki, tetapi bagian produksi lebih menyukai membuat produk yang sama dengan volume yang besar.

Konflik yang dinamis adalah antara divisi marketing dan keuangan. Salah satu hasil survei juga menunjukkan bahwa ternyata hanya sekitar 20% saja perusahaan yang benar-benar menyatakan kedua divisi ini bekerja sama dengan sangat baik. Sekitar 60% menyatakan terdapat kerja sama dalam skala kecil. Sisanya menyatakan kedua divisi ini hampir tidak melakukan kerja sama dan frekuensi konflik yang terjadi sangat tinggi.

Buat divisi keuangan, yang dilakukan oleh marketing dianggap sebagai pengeluaran yang berisiko. Promosi dan segala macam aktivitas yang dilakukan bisa menjadi pemborosan yang besar. Bagi marketer, apa yang mereka lakukan adalah upaya untuk membuat penjualan meningkat dan membuat merek menjadi kuat. Bagian keuangan menuntut setiap rupiah yang dikeluarkan haruslah merupakan investasi yang menghasilkan. Yang sering menjadi konflik adalah bahwa marketing menyatakan tingkat semua kreativitas akan memberi hasil dalam jangka panjang, tetapi bagian keuangan menginginkan perhitungan yang lebih jelas. Mereka menuntut marketing agar mampu memberikan perhitungan seperti return on investment (ROI) dari semua aktivitas promosi.

Ketika database marketing atau hingga digital marketing mulai diimplementasikan, maka frekuensi konflik yang dihadapi divisi marketing adalah dengan divisi IT. Marketing menginginkan setiap komunikasi haruslah semakin personal dan customized. Akibatnya, mereka menghendaki agar divisi IT dapat memberikan dukungannya. Mereka ingin agar data-data yang dibuat oleh divisi IT dapat digunakan. Data harus dianalisis, diperbarui, dan digunakan semaksimal mungkin. Divisi IT tidak jarang enggan melakukan hal ini. Permintaan divisi marketing dianggap sangat merepotkan dan membuat kompleksitas yang besar.

Penyebab Konflik
Dari banyak cerita di atas, kita melihat bahwa penyebab dasar dari konflik adalah perbedaan visi dan goal. Jadi, tiap-tiap divisi merasa memiliki goal sendiri-sendiri dan masing-masing ingin mencapai goal mereka. Mereka bertindak atas kepentingan divisi atau pribadi. Akibatnya, terjadilah perseteruan. Perbedaan goal ini bisa juga karena problem dengan komunikasi. Mereka memiliki persepsi yang berbeda atas visi dan goal perusahaan.

Konflik-konflik yang semakin intensif biasanya kemudian ditambah dengan karakter tim atau pribadi yang berbeda. Mereka punya karakter sendiri karena memang memiliki talenta yang berbeda. Mereka juga berbeda dalam gaya komunikasi, gaya bicara, ataupun pemilihan kata-kata dalam mengungkapkan sesuatu. Konflik akhirnya tercampur dengan emosi tim dan pribadi.

Sekali lagi, resolusi konflik yang baik biasanya memberikan keuntungan. Perusahaan bisa menjadi lebih inovatif dan mereka lebih fokus kepada solusi. Ini terjadi karena mereka sudah terbiasa menghadapi problem.

Peran CEO dan CMO
Siapa yang seharusnya me-manage atau memberi resolusi konflik? Sudah pasti adalah CEO dan anggota BOD. Dalam hal ini, saya fokuskan kepada peran chief marketing officer (CMO). Inilah pentingnya bagi CMO untuk memiliki karakter leadership yang baik. CMO haruslah seseorang yang mampu menjadi sponsor yang baik. Mereka mampu melihat hal-hal yang baik dari tiap-tiap divisi dan kemudian merantai hal-hal positif menjadi kekuatan perusahaan.

CMO mampu menetralkan konflik karena CMO dapat menetapkan visi dan goal yang jelas. Kemudian, CMO perlu menjadi komunikator yang baik. CMO bertanggung jawab untuk mengomunikasikan visi, goal, strategi, dan target mereka kepada divisi lain. Dan inilah yang akhirnya membuat tensi konflik bergeser pada tingkat yang lebih sehat. CMO yang baik juga bertindak sebagai pelatih yang menjadi pendukung tim yang baik.

Tujuan jangka panjang seorang CMO adalah membuat customer driven company. Kalau proses ini tercapai, konflik besar antar divisi pasti terhindarkan. Bayangkan, kalau semua divisi melihat pelanggan sebagai stakeholder yang utama. R & D akan mendengarkan kata pelanggan. Mereka senang kalau marketing terlibat dalam menemukan ide produk baru atau ide untuk membuat perbaikan produk.

Bagian produksi selalu berupaya untuk menghasilkan produk berkualitas dan mencari cara untuk melakukan efisiensi biaya produksi. Mereka siap melakukan customization bila diperlukan oleh pelanggan. Bagian keuangan juga mencoba untuk bekerja sama agar promosi berjalan lebih efektif. Mereka setuju atas setiap aktivitas yang efektif untuk membangun kepuasan dan loyalitas pelanggan.

Bagian IT dengan senang hati mendukung database pelanggan. Mereka siap untuk mendesain platform teknologi dan proses mencari data, update, dan analisis. Mereka memberikan input kepada marketing mengenai program-program yang efektif untuk setiap grup pelanggan yang berbeda.

Anda bisa melihat. Betapa pentingnya peran CMO. Kegagalan dalam menjalankan peran ini sangat terlihat bila perusahaan memiliki divisi marketing yang punya konflik hebat sehingga memengaruhi kinerja perusahaan.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized