Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

BlackBerry : Momentum Oksigen

Tuesday, 09 February 2010

Tahun 2009 ini kita disuguhi dengan beberapa perubahan pasar yang fenomenal di industri telekomunikasi. Salah satu pelakunya, adalah BlackBerry atau yang sudah biasa disebut dengan BB. Inilah kebiasaan pelanggan kita, senang membuat singkatan untuk merek-merek yang panjang atau yang terasa agak sulit diucapkan. Sudah banyak tulisan dan berita seputar pertarungan BlackBerry dengan merek lain, terutama Nokia sebagai pemimpin pasar. Kali ini, saya ingin berbagi dalam perspektif pemasaran.

 

Pernyataan fenomenal ini, bukan hanya diucapkan oleh para pengamat bisnis, tetapi diucapkan sendiri oleh salah satu petinggi Research in Motion (RIM) selaku produsen BlackBerry saat berada di Jakarta. “…pasar Indonesia sungguh fenomenal. Penjualan BlackBerry sepanjang tahun 2008 telah tumbuh lebih dari 400% dari tahun sebelumnya atau tertinggi dari semua negara Asia.”

Berita-berita yang baik memang sedang berpihak kepada BlackBerry. Di sisi lain, Nokia sendiri banyak dirundung oleh berbagai situasi yang kurang menggembirakan. Secara global, pada kuartal ketiga tahun 2009 ini, Nokia melaporkan kerugian sebesar 559 juta euro. Sebuah berita yang menggoncangkan banyak investor terhadap perusahaan ini. Padahal, tahun sebelumnya, hingga kuartal ketiga tahun 2008, Nokia masih membukukan profit sebesar 15 triliun. Ini merupakan laporan kerugian yang pertama kali sejak tahun 1996. Penjualan Nokia sendiri juga mengalami penurunan sekitar 20%. Yang paling menguatirkan adalah penurunan pangsa pasar untuk kategori smartphone dari 41% menjadi 35% di seluruh dunia. Selain BlackBerry, maka iPhone juga memperoleh sebagian pangsa pasar dari Nokia. Kerugian dari Nokia ini juga banyak disebabkan karena Nokia telah banyak melakukan penurunan harga ponselnya sebesar 10% hingga 15%.Nokia tahun lalu menjual harga ponselnya rata-rata sebesar 72 euro dan tahun ini turun menjadi 62 euro. Bagaimana dengan Indonesia? Kondisi di penghujung tahun 2009 ini, menunjukkan tren yang sungguh tidak bersahabat dengan Nokia. Kecepatan penetrasi BlackBerry ini, sungguh tidak terbendung. Memang, sulit untuk menghitung, berapa jumlah BlackBerry yang sudah beredar di Indonesia. Maklum, kita semua sudah tahu bahwa ada BlackBerry masuk dengan jalur resmi dan ada juga yang masuk dengan jalur yang tidak meninggalkan catatan statistik. 

 

Momentum Pertama

Obama, barangkali adalah endorser yang penting bagi BlackBerry, termasuk pasar di Indonesia. Obama diberitakan sangat mencintai BlackBerry nya sehingga ketika menjadi presiden, tidak rela harus mengganti dengan ponsel lainnya. Oleh karena itu, pemerintah terpaksa melakukan pemasangan berbagai alat pengaman untuk menghindari penyadapan dan biaya pengamanan ini, konon mencapai ratusan kali dari harga ponselnya. Jadilah BlackBerry milik Obama menjadi ponsel yang termahal di dunia.  Kontraversi BlackBerry di Indonesia kemudian berlanjut. Bahkan pemerintah melalui salah satu kementeriannya mulai buka suara. BlackBerry tidak diijinkan untuk dijual di Indonesia bila tidak membuka layanan purna jual. Berita-berita seputar ini, kemudian memberi dua efek positif bagi BlackBerry. Pertama adalah sebagai iklan gratis bagi BlackBerry. Yang lebih besar adalah semakin banyak pelanggan yang justru penasaran untuk membeli produk ini.  

 

Momentum Oksigen 

Setiap produk yang meledak, biasanya memperoleh momentum emasnya. Dalam dunia pemasaran, dikenal dengan momentum oksigen. Penjualan yang meningkat sangat tajam ini, disebabkan adanya faktor besar yang mendorong penjualan produk ini. Apa saja yang membuat BlackBerry ini memperoleh momentum oksigen? Saya yakin, ada 3 hal yang menciptakan momentum ini. Pertama, persaingan ponsel di Indonesia sudah sangat tajam. Banyak strategi dan program sudah mereka luncurkan. Excelcomindo sangat berambisi untuk menjadi pemain nomor dua di negeri ini. Telkomsel, mengalami penurunan pangsa pasar selama 2 tahun terakhir ini, tentunya ingin tetap menjadi nomor satu dan tidak mau melepas pangsa pasar di bawah 40%. Indosat pun, tetap ingin mempertahankan posisinya sebagai pemain nomor dua di industri ini. Pemain-pemain lain yang datang belakangan, juga terus berharap menemukan inovasi baru untuk bisa mendekati 3 pemain besar sebelumnya. Ketika BlackBerry terlihat bersinar, setiap operator kemudian berlomba-lomba untuk menjalin kerja sama dengan pihak RIM. Operator-operator besar ini menawarkan berbagai paket bagi para pelanggannya. Jadilah, BlackBerry menikmati iklan gratis yang besar yang bisa bernilai ratusan miyar. Awareness jadi meroket. Kedua, BlackBerry mendapatkan momentumnya karena popularitas darifacebook. Hingga akhir semester 2009, sudah terdapat sekitar 7.7 juta pemakaifacebook. Mereka yang menggunakan facebook ini, hampir mencakup semua kelompok umur. Kalau model smartphone dari Nokia seperti seri E hanya dinikmati mereka yang sudah berusia 30 tahun ke atas, maka produk BlackBerry ini bisa mencakup segmen yang lebih besar. Ketiga, momentum oksigen ini juga tidak akan terjadi bila produk tidak pas dengan kebutuhan, keinginan dan perilaku pelanggan. Bagi pelanggan Indonesia, produk semacam BlackBerry ini memang terasa fit. Ponsel adalah produk yang personal dan memiliki nilai emosional bagi pelanggan Indonesia. Mayoritas pelanggan Indonesia, sangat memperhatikan faktor gengsi dalam memilih merek ponsel. Jadi, setiap produk yang memberikan gengsi yang baru, selalu mendapat sambutan yang sangat baik. Pelanggan Indonesia memiliki persepsi bahwa ponsel yang mereka gunakan adalah bagian dari cermin status sosial mereka. Tidak mengherankan, sebagian dari mereka yang memiliki BlackBerry, sangat terlihat kebanggaannya saat membawa BlackBerry. Mereka senang dengan nada panggil dari BlackBerry yang khas. Mereka bangga telah menjadi komunitas BlackBerry. Fitur-fitur BlackBerry yang berupa BBM dan PIN, telah menjadi tanda bagi orang lain bahwa mereka adalah komunitas BlackBerry. Tidak mengherankan, mereka-mereka yang membawa Nokia Communicator, sangat cepat kemudian beralih setelah melihat sebagian komunitas mereka juga sudah menggunakan BlackBerry. 

 

Bagaimana Masa Depan BlackBerry?

Sekitar 2 tahun yang lalu, sebelum BlackBerry meledak, saya pernah menyampaikan dalam suatu seminar Top Brand di Jakarta bahwa hasil survei dari Frontier Consulting Group selama tahun 2006 hingga 2007 menunjukkan bahwa popularitas BlackBerry semakin meningkat. Suatu saat, pasti akan menunjukkan ledakan penjualan. Hanya saja, di tahun 2006 dan 2007, belum ada momentum oksigen yang mendorong penjualan BlackBerry ini. Pangsa pasar BlackBerry akan tetap melaju di tahun 2010. Sangat sulit bagi Nokia dan merek lain untuk membendung pasar BlackBerry hingga semester pertama tahun 2010. Apalagi, bila BlackBerry mengeluarkan model yang harganya mencapai 2 juta, sangatlah mungkin ponsel ini akan memperoleh pangsa pasar sekitar 70% untuk kategori smartphone atau sekitar 10%-15% dari total pasar ponsel yang baru. Adanya PIN dari BlackBerry ini telah membuat switching barrier yang semakin kecil. Pelanggan sudah tidak memperhatikan operator untuk mendapatkan layanan SMS murah karena on net atau sesama operator. Fasilitas PIN bersama dengan BBM ini membuat komunikasi menjadi gratis. Ini sekaligus juga merupakancustomer value yang besar.  Jumlah pelanggan yang tidak puas dengan aksesinternet yang lambat melalui fasilitas GPRS juga telah mendongkrak kepuasan pengguna BlackBerry. Tidak mengherankan, setelah menggunakan BlackBerry, sangat sedikit sekali yang menyatakan tidak puas dan kemudian kembali ke ponsel yang lama. Sampai kuartal ketiga ini, BlackBerry dan iPhone hanya menguasai sekitar 8% dari pasar ponsel dunia. Pasar smartphone ini hanya sekitar 13.5%.Walaupun demikian, kedua perusahaan ini, memiliki profit sekitar 66% dari total semua profit dari pemain ponsel di dunia. Profitabilitas ini juga merupakan modal bagi BlackBerry untuk mampu bersaing secara global. Nokia, tidak akan menyerah begitu saja. Memasuki kuartal keempat ini, Nokia telah berhasil membendung serangan BlackBerry dan iPhone di pasar dunia dan mulai mampu menahan pangsa pasarnya agar tidak jatuh. Demikian pula, perbaikan teknologi dan model yang dipersiapkan oleh Nokia, telah memberikan optimisme yang baru. Hanya saja, melihat karakter pelanggan Indonesia yang berbeda dengan pengguna ponsel di Amerika dan Eropa, Nokia tetap harus bersabar untuk menahan kejatuhan pangsa pasarnya hingga akhir tahun 2010 di pasar Indonesia. Ditambah lagi, serangan ponsel China dengan harga murah, membuat Nokia Indonesia terserang dari 2 arah atau terjepit bak hamburger.  Tidak mudah memprediksi pasar di tahun 2011. Pada tahun ini, diprediksi akan muncul merek baru yang perlu diperhitungkan yaitu Android dari Google. Nokia akan tetap bertahan sebagai merek besar tetapileadership nya di tahun 2011 sudah memasuki fase ketidakpastian.         



Handi Irawan D

Chairman Frontier Consulting Group

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized