Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Big Data, Big Win (4)

Tuesday, 13 October 2015

Gojek memiliki potensi sebagai perusahaan yang menghasilkan big data. Dengan jumlah transaksi yang mencapai jutaan setiap minggu, Gojek bisa menghasilkan data dengan ukuran terabyte. Ini memang salah satu keuntungan besar dari perusahaan online. Hanya saja, salah satu faktor yang memiliki potensi kurang menguntungkan adalah akurasi dan relevansi data yang dihasilkan melalui aplikasi Gojek.

Kalau jumlah orang yang menggunakan aplikasi Gojek ternyata berbeda dari orang sesungguhnya, maka data yang dihasilkan akan menjadi problem besar. Dengan kata lain, mereka yang menggunakan aplikasi Gojek dan yang menggunakan jasa sesungguhnya adalah orang yang berbeda. Ini juga seperti di industri sepeda motor dimana nama orang yang memakai sepeda motor ternyata berbeda dari nama yang tertera di STNK. Data-data yang tidak akurat itu akan menjadi salah satu faktor besar yang menentukan big data akan sukses atau tidak.

Demikian juga kemampuan perusahaan yang memproduksi big data, akan sangat memengaruhi kesuksesan perusahaan dalam menggunakan big data untuk memenangkan persaingan. Kembali ke data yang dihasilkan oleh Gojek, dimana pembayaran banyak dilakukan dalam bentuk tunai. Dalam konteks big data, ini jelas juga sangat mengurangi kualitas data yang dihasilkan. Terkait hal ini, Uber Taxi akan lebih memiliki keuntungan besar dalam hal kualitas data yang dihasilkan. Penumpang Uber menggunakan kartu kredit, dan identitas kartu akan menambah kualitas data yang dihasilkan. Analisis, komunikasi, dan relationship yang dapat dibangun oleh perusahaan akan lebih dalam dan menghasilkan engagement yang lebih tinggi.

E-commerce adalah bentuk bisnis internet yang memiliki nilai perusahaan yang tinggi untuk setiap pelanggannya. Harga pelanggan dari perusahaan e-commerce misalnya, akan lebih tinggi dibandingkan dengan harga pelanggan perusahaan internet yang bentuknya komunitas. Memang, salah satu faktornya adalah kemungkinan moneytizing perusahaan e-commerce yang relatif tinggi dibanding perusahaan online dalam bentuk komunitas. Tetapi, faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah kualitas data yang dihasilkan oleh perusahaan e-commerce. Data-data pelanggan e-commerce lebih akurat dan lebih relevan. Perusahaan e-commerce akan mendapatkan identitas yang akurat sekaligus perilaku pembeliannya. Big data yang dihasilkan e-commerce akhirnya benar-benar sangat berguna.

Bayangkan perusahaan e-commerce seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, dan Blibli yang sudah memiliki pelanggan di atas 1 juta, akan memiliki data yang dapat dianalisis dengan ratusan pengukuran. Mereka mengetahui persis apa yang menjadi kebutuhan produk dari pelanggannya. Juga memahami cara-cara pembayaran yang menjadi preferensi mereka. Bila dilanjutkan, akan ada ratusan analisis yang mungkin dapat dilakukan. Analisis ini akan menghasilkan informasi dan knowledge yang dapat membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan efektif.

Jadi, apa yang membuat perusahaan yang memproduksi big data bisa sukses? Di urutan pertama adalah kualitas data, dan kualitas ini memiliki dua dimensi yang penting yaitu akurasi dan relevansi. Ini seperti sebuah restoran dimana makan yang enak sudah tentu sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan bakunya. Data yang buruk hanya akan menghasilkan informasi yang buruk saat dianalisis.

Orientasi Perusahaan
Setelah kualitas data, faktor lain apakah yang membuat perusahaan akan sukses dengan big data-nya? Saya akan memilih orientasi perusahaan terhadap big data. Ada perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki komitmen dan memutuskan bahwa big data haruslah menjadi strategi untuk memenangkan persaingan. Perusahaan sudah mempunyai orientasi, keyakinan, dan fokus dalam membangun big data.

Perusahaan seperti Fedex dan UPS tidak akan mudah dikalahkan, walau mereka adalah perusahaan pengiriman yang menetapkan tarif premium. Perusahaan-perusahaan ini melakukan upaya untuk melakukan tracking dokumen sudah sejak tahun 1980-an. Saat era internet tiba, mereka semakin fokus untuk mengembangkan berbagai aplikasi untuk membuat proses tracking dokumen menjadi semakin cepat dan canggih.

UPS misalnya, mereka sudah mempunyai program yang disebut “ORION” (on-road integrated optimization and navigation) yang akhirnya membantu perusahaan ini dalam pengambilan dan pengiriman dokumen yang dipandu oleh peta online. UPS akhirnya mampu menghasilkan big data yang dapat digunakan sehingga proses pengiriman menjadi lebih cepat dan mereduksi biaya yang besar. Aplikasi tersebut mampu memberikan informasi mengenai rute pesawat yang paling efisien. Data-data dari UPS ini ukurannya adalah petabyte. Tidak mengherankan, setiap hari diperkirakan ada sekitar 20 juta dokumen yang tercatat dan di-tracking.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki orientasi pada big data ini biasanya juga berupaya terus-menerus untuk melakukan integrasi. Hal tersebut dilakukan terhadap semua data dari hulu ke hilir dan mencakup berbagai departemen yang terkait. Perusahaan yang berorientasi pada big data ini sanggup mempersatukan divisi-divisi yang ada untuk memanfaatkan big data sebagai proses untuk menciptakan nilai tambah bagi pelanggannya.

McKinsey juga pernah melakukan survei mengenai “data-driven mind-set” dari perusahaan-perusahaan di berbagai negara. Walau Indonesia tidak masuk dalam radar survei, hasilnya pasti berlaku juga untuk negara-negara di seluruh dunia meski mungkin berbeda dalam kadar kontribusi kesuksesannya. Survei ini menunjukkan bahwa korelasi yang sangat kuat antara data-driven mind-set menentukan kesuksesan perusahaan dalam mengelola big data.

Data-driven mind-set ini biasanya akan menciptakan perusahaan yang memiliki pengukuran terhadap return on investment (ROI) dari big data. ROI dari investasi big data haruslah lebih tinggi dari ROI yang telah dicapai oleh perusahaan. Misalnya, perusahaan di tahun lalu memiliki ROI sebesar 20%. Maka, semua proyek dari big data harus menghasilkan return yang lebih tinggi dari 20% untuk menciptakan driver yang bisa membuat ROI perusahaan naik.

Kemampuan Analitik
Faktor ketiga dari kesuksesan big data adalah kemampuan analitik dari perusahaan, baik sebagai sebuah perusahaan atau kemampuan leader dan individu-individu dalam mengolah datanya. Data-data yang dihasilkan baru berguna untuk mengambil keputusan apabila sudah diolah dengan baik.

Telkomsel adalah salah satu perusahaan yang pasti banyak memproduksi big data. Data-data dari Telkomsel akan mampu menjawab banyak pertanyaan yang dibutuhkan oleh Telkomsel dan bahkan dibutuhkan oleh banyak industri yang lain. Di masa mendatang, Telkomsel bisa menjadi produsen big data dan menghasilkan revenue karena pengolahan data-datanya.

Telkomsel akan mampu mendeteksi bukan hanya perilaku berkomunikasi, tetapi juga gaya hidup seseorang. Berapa banyak mereka menggunakan waktu untuk belanja, pada radius berapa orang belanja, sampai komunitas apa yang mereka sukai. Ini tentunya akan sangat tergantung pada kemampuan analitik dari perusahaan.

Dalam konteks ini, memang perusahaan perlu melihat di fase manakah mereka kini sedang berada. Perusahaan B to B mungkin masih berada di fase analitik 1.0. Data-data yang dihasilkan relatif terstruktur dan cenderung hanya deskriptif. Perusahaan-perusahaan start-up dan online yang masih berukuran sedang dapat dikatakan perusahaan yang membutuhkan kemampuan analitik 2.0. Penggunaan dari analisis data-data biasanya untuk mengembangkan produk baru.

Era yang disebut analitik 3.0, perusahaan dihadapi pada situasi dimana harus mengintegrasikan banyak data, dengan jenis data yang berbeda dan tidak terstruktur. Pada fase ini, perusahaan perlu sungguh-sungguh membangun kemampuan analitiknya. Kemampuan analisis ini bersumber di dua hal, yaitu sumber daya manusia dan penggunaan teknologi yang tepat. Dua hal tersebut sudah saya bahas pada tulisan di edisi yang lalu.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized