Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Big Data, Big Win (3)

Wednesday, 09 September 2015

Salah satu artikel di Harvard Business Review di tahun 2015 mempunyai judul “Data Scientist: Most Sexiest Job”. Prediksi ini didasarkan atas kenyataan bahwa big data akan memainkan peran penting bagi perusahaan untuk bersaing dan bertumbuh. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila karier di bidang big data akan menjadi karier yang menjanjikan, tentunya dari perspektif jabatan dan remunerasi. Akan banyak permintaan, tetapi supply tenaga terampil di bidang ini akan relatif sedikit.

Di dua tulisan sebelumnya, saya sudah membahas mengenai penggunaan big data dan juga strategi bagi perusahaan. Pada tulisan kali ini, saya akan fokus untuk para marketer memikirkan bagaimana meningkatkan kemampuan perusahaan agar mampu menyusun strategi dan implementasinya. Dua hal yang fundamental adalah sumber daya manusia dan juga teknologi.

shutterstock_133067660

Big data akan melibatkan banyak divisi atau departemen dalam perusahaan. Ini tergantung dari proses yang diinginkan oleh perusahaan. Ada beberapa perusahaan yang lebih fokus pada produksi datanya. Sebagian perusahaan lebih memikirkan untuk fokus kepada analisis dan discovernya untuk membuat keputusan. Perusahaan yang fokus pada produksi big data, maka divisi IT akan memainkan peran yang sangat besar. Sebaliknya, bila fokus ditujukan untuk discovery, yaitu mengubah data menjadi informasi sehingga menemukan sesuatu yang baru, relevan dan berguna bagi pengambilan keputusan, maka peran divisi pengembangan dan perencanaan bisnis menjadi lebih dominan.

Divisi R&D juga memiliki keterlibatan besar dengan proses dan hasil dari big data untuk menciptakan masukan bagaimana produk bisa diperbaiki atau menciptakan produk baru. Divisi pemasaran dan penjualan tentunya juga memiliki kepentingan yang besar, karena dari proses discovery inilah perusahaan akan mampu melihat target pasar sesungguhnya dan sekaligus memperbaiki proses komunikasinya. Divisi operasional juga bisa terlibat dengan big data, terutama bila big data yang diperoleh adalah data-data yang berhubungan dengan proses produksi dan inventory.

Jadi, keberhasilan utama dari big data adalah sumber daya manusia. Perusahaan boleh mengumpulkan big data, yang bersumber dari media sosial, video, biometrik, web, dan lain-lainnya, tetapi tidak akan pernah menjadi sebuah informasi yang bermakna bila tidak tersedia sumber daya manusia yang sanggup membuat pola, menginterpretasikan, dan juga menyebarkan ke divisi-divisi terkait. Apalagi di Indonesia, problem sumber daya manusia inilah yang akan menjadi hambatan besar untuk memanfaatkan big data secara optimal.

Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Lalu, kualifikasi seperti apakah yang kemudian diperlukan bagi perusahaan yang terlibat dalam big data? Bila suatu saat big data ini menjadi sebuah divisi atau departemen tersendiri, tentunya akan banyak anggota tim diperlukan dengan kualifikasi yang berbeda-beda. Di tempat tertinggi adalah data scientist. Ini adalah sosok yang umumnya memiliki kemampuan akademis yang sangat baik. Sosok ini sanggup merancang proses produksi dan proses discovery dari big data. Produk yang dihasilkan adalah sebuah blue print beserta road map-nya. Mencari sosok seperti ini bisa lebih sulit dibandingkan upaya mencari CEO.

Yang lebih bersifat teknis adalah jabatan yang disebut hacker atau chief programmer. Mereka yang ada dalam posisi ini adalah sosok yang mampu menciptakan code dalam program. Kemampuannya membaca blue print dan lantas menerjemahkan dalam sebuah alur dan disertai dengan code-code, akan menjadi keahlian yang sangat diharapkan.

Kemudian, di bawah kedua jabatan ini adalah business expert dan quantitative expertBusiness expert lebih banyak melihat bagaimana big data dapat dimanfaatkan untuk mereduksi biaya, memperbaiki proses atau menciptakan inovasi baru. Quantitative expert adalah mereka yang paham statistik, metode analisis atau pengolahan database. Mereka adalah sosok yang berhubungan dengan angka-angka dan grafik visual setiap harinya.

Perusahaan besar yang memang memiliki big data pastilah lebih punya kapasitas untuk membentuk tim yang lengkap. Misalnya saja, sebuah perusahaan asuransi yang sudah memiliki jumlah pelanggan puluhan juta dan sudah menggunakan internet sebagai saluran penjualan dan komunikasi. Perusahaan asuransi ini akan memproduksi data yang berukuran terabyte setiap harinya. Mereka membutuhkan data scientist untuk merancang, membutuhkan engineer sebagai hacker untuk membangun program, membutuhkan business expert untuk membuat keputusan pemasaran, penjualan, dan layanan yang lebih baik, dan membutuhkan puluhan ahli kuantitatif untuk membuat laporan dan menemukan pola dan tren pelanggan dalam melakukan komunikasi dan menyampaikan klaim.

Tetapi, jangan dilupakan adalah perusahaan yang memang bergerak di bidang digital atau online. Walau mungkin karyawannya baru di bawah 100, mungkin sekitar 20 persennya adalah mereka yang terlibat dalam produksi dan discovery big data. Inilah yang membuat sebuah start-up company memiliki kemampuan untuk menjadi perusahaan besar dalam waktu yang cepat karena kemampuannya di bidang big data. Mereka lebih cepat daripada perusahaan konvensional dalam memahami dan merespons pasar.

Misalnya saja, Alfamart yang sudah memiliki karyawan lebih dari 100 ribu dan Alfaonline yang karyawannya kurang dari 500 orang. Dalam hal produksi bigdata, Alfaonline bisa mengalahkan Alfamart yang hanya didominasi dengan data-data transaksi di outlet-outlet-nya yang ukurannya hanya gigabyte. Alfaonline bisa memproduksi video yang ukurannya terabyte. Tetapi, yang lebih penting adalah bukan hanya volumenya melainkan variasinya. Alfaonline akan memiliki banyak data yang tidak terstruktur dan variasi yang tinggi. Tidak mengherankan, Alfaonline nantinya akan lebih cepat membutuhkan data scientist dibandingkan dengan induknya, Alfamart. Bila tidak, akan sangat sulit bersaing dengan Tokopedia, Bukalapak, Blibli, dan masih sederet e-commerce lainnya. Keberhasilan membangun gerai Alfamart yang demikian banyak tidak akan dapat ditransfer untuk membangun Alfaonline. Perusahaan ini sudah masuk dalam game yang baru. Dibutuhkan strategi dan kemampuan yang baru. Dan di deretan terdepan yang harus diperbarui adalah kemampuan perusahaan dalam menangani big data, dan terutama sumber daya manusianya.

Teknologi
Dimensi kapabilitas perusahaan yang kedua adalah teknologi. Dengan data yang tidak terstruktur, mustahil bila big data dapat diproses dengan peranti lunak yang sudah dimiliki seperti spreadsheet, analitik, atau data mining. Ini hanya cocok untuk data-data yang terstruktur dan data-data internal yang dimiliki perusahaan. Data-data dari media sosial membutuhkan peranti lunak yang baru.

Kalau big data itu asalnya dari media sosial, maka berbagai platform seperti Radiant6 atau Media Wave sudah cukup membantu untuk mengolah big data seperti ini. Tetapi bila kemudian big data ini diproduksi dari video dan biometriks, dibutuhkan peranti lunak yang memang lebih hebat. Peranti-peranti lunak yang hebat ini biasanya dibangun oleh perusahaan-perusahaan yang menghasilkan big data dan bukan perusahaan IT. Pertama-tama, mereka menggunakan untuk keperluan mereka sendiri. Tidak mengherankan, Yahoo, Google, dan Facebook adalah perusahaan di balik penciptaan teknologi untuk big data ini.

Hadoop dan Map Reduce adalah contoh teknologi yang umum digunakan untuk big data. Scripting Language juga populer di kalangan engineer big data untuk membangun peranti aplikasi. Phyton, Pig, dan Hivej adalah peranti lunak yang dibangun dari Scripting Language. Machine Learning adalah teknologi untuk membuat model dari big data. Ini banyak digunakan untuk mencari pola dan memprediksi tren ke depan.

Di balik dua dimensi ini, baik sumber daya manusia dan teknologi, yang lebih menjadi driver utama adalah leadership. Kalau perusahaan yang sudah masuk dalam industri dimana big data mengalir, dan kemudian CEO dan BOD-nya tidak merespons dengan efektif, maka sulit diharapkan perusahaan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memilih teknologi yang tepat. Big data tetap saja adalah tantangan baru bagi para leader untuk memasuki era 3.0.

 

Quote: Dibalik dua dimensi ini, baik sumber daya manusia dan teknologi, yang lebih menjadi driver utama adalah leadership

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized