Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Big Data, Big Win

Monday, 06 July 2015

Uber Taxi sedang diuber. Perusahaan ini dianggap tidak memiliki izin, tidak memiliki legalitas perusahaan di Indonesia dimana penghasilannya bisa dikenai pajak. Berita larangan beroperasinya Uber Taxi akhirnya menjadi berita lumayan besar di media. Perusahaan ini tentunya juga senang karena berita tersebut menjadi PR gratis yang bernilai miliaran rupiah.

Perusahaan yang didirikan oleh Travis Kalanick dan Garrett Camp di tahun 2009 ini sudah merambah ke 58 negara dan lebih dari 300 kota di seluruh dunia. Di beberapa negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Belgia‎ atau negara Asia seperti Thailand, India, Taiwan, dilarang atau pernah dilarang. Bahkan, di negara asalnya, Amerika, beberapa negara bagian seperti Nevada dan Oregon, melarang Uber Taxi ini beroperasi.

Sebagian besar dari alasan pelarangan ini adalah masalah keamanan. Pemerintah setempat meragukan bagaimana bisa mengatur sopirnya dengan baik dan menjamin keamanan para penumpangnya. Saya sendiri juga merasa tidak nyaman ketika tahu anak saya di AS juga sering menggunakan Uber Taxi. Ketika saya larang, justru dia yang menjadi pembela, dengan mengatakan bahwa Uber Taxi bukan hanya lebih murah, tapi nyaman dan sangat aman.

Bahkan disinyalir, larangan Uber Taxi di negara Eropa bukan karena masalah keamanan, tetapi masalah persaingan. Perusahaan-perusahaan taksi di Eropa menyadari bahwa akan sulit untuk bersaing dengan model bisnis seperti Uber Taxi. Mereka memiliki biaya operasional yang rendah, tetapi kualitas engagement dengan pelanggan yang tinggi.

Walaupun demikian, perusahaan yang hanya memiliki platform ini dan tidak mempunyai armada taksi sendiri, pada tahun 2014, diestimasi memiliki valuasi US$40 miliar atau lebih dari Rp500 triliun. Ini menunjukkan bahwa platform ini punya masa depan yang sangat cerah. Lalu, apa yang mendasari keyakinan ini? Adakah alasan lain selain biaya operasional yang murah sehingga harganya bisa kompetitif?

Dari kacamata pelanggan, jelas banyak! Saat mendaftar ke platform ini, Anda perlu memberikan data identitas sekaligus kartu kredit Anda. Masalah pembayaran juga menjadi hal yang sangat nyaman.

Salah satu hal yang membuat kita tidak nyaman saat meminta taksi melalui call center adalah kadang panggilan telepon tidak tersambung atau kemudian tidak ada kepastian, kapan taksi akan datang, terutama kalau kita membutuhkan saat itu juga. Melalui Uber Taxi, kita bisa melihat melalui smartphone, berapa taksi di sekitar kita berada yang bisa dipanggil dan berapa lama taksi terdekat akan mampu menuju ke tempat kita. Untuk tulisan kali ini, saya akan melihat keunggulan Uber Taxi dari kemampuannya menghasilkan big data untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik dan memahami perilaku pelanggan dengan baik.

Uber Taxi mampu mencatat kebiasaan lokasi pelanggan untuk memanggil taksi‎. Uber Taxi juga mencatat semua destinasi setiap pelanggan. Ini yang tidak mungkin dicatat oleh perusahaan taksi konvensional. Dan kalau Uber Taxi suatu hari menginginkan data lebih soal perilaku pelanggan, sensitivitas harga dan soal kemacetan jalan, semua‎ bisa diperoleh secara real-time. Tidak mengherankan, Uber Taxi sanggup menerapkan dynamic pricing, dimana harga tergantung supply-demand dan juga kemacetan jalan.

Dalam kalimat pendek, Uber Taxi adalah perusahan yang menciptakan keunggulan melalui big data.

Apa Itu Big Data?

Big data memiliki tiga karakter utama. Pertama adalah volumenya, dan ini sesuai dengan namanya, big data. Memang tidak ada konsensus yang pasti, berapakah minimal besarnya data yang dapat disebut big data. Sebagian menyebutkan minimal 100 terabytes (10 pangkat 12) dan sebagian memberi batasan 10 petabytes (10 pangkat 15). Padahal kita belum mendengar dari megabytes menjadi gigabytes seperti yang kita peroleh paket data perusahaan seluler. Data-data online adalah sumber data yang sangat cepat membuat volume data yang cepat bertambah secara eksponensial.

Kedua adalah variety. Ini merupakan tantangan yang lebih besar.‎ Data menjadi tidak terstruktur dan tidak bisa dimasukkan dalam baris kolom seperti data terstruktur. Karena datanya tidak terstruktur, analisis menggunakan software analitik yang biasa tidak memungkinkan. Data yang bersumber dari media sosial adalah contoh data yang tidak terstruktur. Percakapan dari Facebook, Twitter atau bahkan seperti YouTube, sangat tidak terstruktur.

Ketiga adalah velocity. Big data bersifat sangat dinamis. Data ini tidak statis seperti database pelanggan. Data-data yang diperoleh dari biometrik atau sensor adalah contoh data besar yang sangat dinamis. Sensor yang diletakkan di barang, mesin, atau mungkin juga manusia, adalah sumber data yang besar dan terus mengalir.

Sepatu Nike+ yang memiliki sensor dan dapat dibaca oleh iPhone, menghasilkan data besar yang kontinu. Jutaan sepatu yang digunakan setiap hari ini akan memberi data-data yang berhubungan dengan berapa lama berlari, berapa jarak, berapa kalori, dan sebagainya. Bisa dibayangkan betapa besar manfaat data-data ini untuk mengenal perilaku konsumen sekaligus memprediksi perilaku pembelian di masa mendatang.

Sifat big data yang biasa disebut 3V ini (Volume, Variety, Velocity) memberi dampak yang besar untuk hampir semua jajaran di perusahaan. Manajemen puncak bisa menggunakan data ini untuk memprediksi tren, menciptakan inovasi bisnis atau produk. Divisi pemasaran akan mampu melihat konsumen dari semua aspek dimensi. Apalagi untuk supply chain management, maka setiap divisi terkait mampu menciptakan value yang tepat.

Di masa mendatang, data-data dari smartphone akan menjadi sumber yang sangat vital terutama bagi para marketer. Di sinilah mereka bisa mengintegrasikan penjualan dan pemasaran. Demikian juga semua inovasi produk, dengan mudah bisa digagas dan diciptakan karena pemahaman perilaku pelanggan yang dalam. Sampai di sini, kita bisa melihat mengapa Uber Taxi adalah platform yang berbahaya bagi perusahaan taksi konvensional.

Unggul Karena Big Data
Ke depan, akan banyak perusahaan yang menjadi pemenang karena big data. Di industri perbankan misalnya, ada begitu banyak data transaksi dan media sosial yang dapat digunakan untuk menyusun strategi dan program CRM yang efektif. Di industri ritel, data biometrik seperti face recognition, bisa menjadi data dan informasi yang efektif untuk meningkatkan penjualan dan loyalitas.

Apalagi untuk perusahaan yang sudah berada di industri digital. LinkedIn dengan mudah mendeteksi, “people you may know” atau “people who viewed your profile” adalah contoh big data yang sudah dibuat algoritmanya dan kemudian menjadi komunikasi yang demikian relevan. Kenyataannya, software big data yang ada sekarang seperti Hadoop adalah produk dari Yahoo dan sebagian adalah produk dari Google.

Kembali ke Uber Taxi di atas, maka semakin jelas bahwa salah satu keunggulan perusahaan ini adalah kemampuan untuk memproduksi big data, membuat algoritma, analisis, dan akhirnya membuat keputusan bisnis yang tepat.

Perusahaan taksi konvensional akan membutuhkan waktu untuk mengetahui bagaimana penyebaran kebutuhan taksi di setiap area. Uber Taxi bisa mendapatkan real-time. Perusahaan taksi konvensional tidak akan mampu mengetahui secara personal berapa frekuensi pelanggan A untuk pergi ke tujuan tertentu. Perusahaan taksi konvensional akan sulit menjawab pertanyaan sederhana, berapa jumlah penumpang baru dan lama di bulan ini, karena taksi tidak mengenal penumpang.

Sebaliknya, platform mengidentifikasi penumpangnya dengan sangat baik. Bukan hanya nama, tetapi kartu kredit, tujuan, dan besarnya billing yang dibayar selama periode tertentu.‎ Itulah yang memberi sebagian penjelasan, kenapa perusahaan ini berharga lebih mahal dari harga 2 juta taksi kijang.

Handi Irawan D
CEO Frontier Consulting Group
@HandiirawanD

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized