Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Bersaing Melalui Informasi - Bagian 3 Habis

Tuesday, 04 December 2007

Astra World adalah sebuah nama perusahaan di bawah naungan Astra Internasional yang didirikan untuk memaksimalkan penggunaan informasi pelanggan. Ambisinya, perusahaan ini akan menyatukan berbagai data dan informasi dari semua pelanggan Astra dari divisi otomotif yaitu mereka yang pernah membeli mobil Toyota, BMW, Isuzu, Daihatsu dan lain-lain.

Melalui kartu keanggotaan, maka para pelanggan Astra ini akan memperoleh berbagai keuntungan seperti dalam hal pemberian harga yang khusus maupun beragam bentuk pelayanan. Pada akhirnya, pelanggan diharapkan akan menjadi lebih loyal terhadap semua produk dan jasa layanan dari Astra.

Melalui data dan informasi ini, Astra World tentunya dapat mengetahui profil para pelanggannya dan memonitor perilaku pembelian para pelanggannya; kemana saja mereka melakukan penawaran, pelayanan perbaikan dan suku cadang apa saja yang mereka beli. Dari sisi internal, melalui informasi yang terolah menjadi pengetahuan, Astra World berupaya untuk menjalani suatu proses menuju sebuah perusahaan yang ingin terus belajar dan menjadi organisasi yang inovatif. Tentunya, banyak tantangan yang masih akan dihadapi perusahaan ini di masa mendatang. Komitmen jangka panjang dan kemampuannya untuk terus mengolah informasi menjadi pengetahuan inilah yang akan menentukan keberhasilan dari perusahaan ini.

Pada tulisan di edisi yang lalu, sudah dipaparkan, bagaimana perusahaan dapat menjadikan informasi sebagai suatu input yang berharga bagi perusahaan untuk menciptakan nilai tambah. Ini merupakan senjata pertama bagaimana suatu perusahaan dapat memenangkan persaingan. Dalam jangka panjang, kemenangan ini hanya akan berkesinambungan apabila ditunjang oleh organisasi yang memiliki budaya dan norma yang ingin terus belajar dan menghasilkan inovasi baru.

Keberhasilan suatu perusahaan untuk menciptakan budaya ingin terus belajar dan inovasi, jelas tidak terlepas dari cara-cara perusahaan memandang pentingnya informasi dan bagaimana informasi dianalisa dan dikelola. Perusahaan yang masuk dalam kategori ignorance terhadap informasi adalah perusahaan yang pasti gagal dalam menciptakan budaya belajar. Perusahaan seperti ini, adalah perusahaan yang tidak melihat manfaat informasi dan tidak ada upaya untuk mengumpulkan informasi. Perusahaan yang sudah lama hidup dan tumbuh dalam lingkungan monopoli, akan mudah terjebak dalam situasi seperti ini.

Sedikit maju adalah perusahaan yang bersikap blind faith. Mereka sudah mengerti akan pentingnya informasi tetapi gagal untuk mendapatkan pengetahuan yang berarti karena lemah dalam pengolahan dan analisa data. Yang terbaik adalah perusahaan yang sudah masuk dalam tingkatan sophistication, akan menjadikan informasi untuk mendorong terjadinya inovasi.

Dalam konteks ini, informasi dan pengetahuan akan menciptakan inovasi melalui dua kemungkinan proses. Pertama adalah proses inovasi yang bersifat bottom-up dimana informasi bukanlah pencetus atau penggerak pertama. Artinya, ide lebih dahulu muncul dan kemudian informasi digunakan sebagai masukan untuk melihat peluang lebih dalam, memvalidasi dan akhirnya memberikan gambaran terhadap berbagai pilihan.

Proses inovasi kedua adalah yang bersifat top-down. Proses inovasi seperti ini menunjukkan bahwa informasi telah menjadi faktor pemicu terhadap munculnya ide-ide baru. Informasi kemudian tetap dibutuhkan untuk membuat berbagai keputusan selama proses persiapan produk dan layanan baru berlangsung hingga akhirnya benar-benar diluncurkan di pasar.

Dalam banyak hal, inovasi seringkali diceritakan sebagai suatu kisah yang penuh dengan ketidaksengajaan. Penemuan produk baru adalah proses yang tiba-tiba muncul. Misalnya, bagaimana Sony memiliki ide untuk meciptakan Walkman. Secara tidak sengaja, top manajemennya sedang berlari dan kemudian timbul ide bagaimana membuat audio yang dapat dinikmati sambil berlari. Penemuan Post-it dari 3-M yang legendaris, juga diceritakan sebagai penemuan yang tidak terencana dan muncul tiba-tiba.

Memang, ada sedikit kebenaran dari cerita-cerita inovasi yang tidak sengaja tersebut. Tetapi, kebenaran yang lebih besar adalah terletak dari kenyataan bahwa perusahaan yang inovatif adalah perusahaan yang sudah mengupayakan untuk membangun nilai-nilai dan budaya perusahaan yang memanfaatkan informasi untuk terus belajar.

Dukungan dari manajemen puncak jelas sangat vital. Merekalah yang memberikan arah bagi semua jajarannya. Merekalah yang membangun infrastruktur yang memungkinkan perusahaan lebih dapat memanfaatkan informasi yang memicu terhadap munculnya inovasi.
Ketika kartu kredit ditemukan pada tahun 1958, manajemen puncak dari Bank of Amerika, telah membentuk sebuah team untuk mengkaji hal ini. Beberapa tahun kemudian, Citibank membentuk pula sebuah team untuk memberikan tambahan fitur terhadap kartu kredit. Seluruh fitur-fitur dari kartu kredit ini, lahir karena setiap anggota team telah memanfaatkan informasi dan pengetahuan secara optimal. Jadi, inovasi ini bukan hanya sebagai hasil dari respon terhadap kebutuhan pasar tetapi secara proaktif mereka memikirkan apa yang dapat diberikan kepada pasar. Kedua kisah ini, tidak akan pernah dicatat apabila perusahaan tidak dalam kondisi yang siap untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan yang akhirnya mendorong timbulnya inovasi.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized