Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Big Brands, Big Trouble?

Tuesday, 02 April 2013

Handi Irawan D
CEO
Frontier Consulting Group
@HandiirawanD

BCA, Mandiri, BRI, dan BNI adalah deretan bank papan atas di Indonesia. Bank-bank ini bukan saja besar dalam hal aset, jumlah dana pihak ketiga maupun jumlah kredit, tetapi adalah bank-bank yang juga memiliki merek-merek yang kuat.

Hasil survei dari Frontier Consulting Group selama 14 tahun telah membuktikan. Top of mind dari bank-bank ini sangat dominan, terutama BCA yang konsisten di atas selama 14 tahun. Demikian juga, mereka sangat perkasa untuk dimensi dari pengukuran Top Brand lainnya. Tentunya, salah satu pertanyaan yang penting adalah bagaimana kira-kira kekuatan dari merek ini di masa mendatang? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui pergerakan grafik indeks dan kemudian kita ekstrapolasi ke depan.

BCA cenderung stabil kekuatan mereknya dan sedikit mengalami perlemahan selama kurun waktu tahun 2007 dan 2008. Maklum dominasi mereka dalam jumlah ATM mulai ternetralisir. Kemudian, mulai naik kembali terutama saat popularitas klik BCA, M-BCA, dan berbagai produk kredit konsumtifnya banyak dikenal oleh masyarakat. Mandiri dan BRI terus mengalami kenaikan, dan selama 10 tahun terakhir ini besarnya Top Brand Index hampir naik 2 kali lipat.

Hasil survei menunjukkan bahwa kekuatan merek ini semakin dominan selama 10 tahun terakhir. Mengingat pengukuran dari top of mind, salah satu dari dimensi pengukuran Top Brand Index ini bersifat zero sum game, maka dapat diduga bahwa kekuatan merek-merek dari bank lain cenderung melemah. Bank-bank besar ini akan tetap semakin perkasa di masa mendatang. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila bank-bank besar akan memiliki kekuatan yang baik dalam menghadapi persaingan.

Ini juga terlihat bahwa profitabilitas bank-bank tersebut naik lebih cepat dibanding dengan bank-bank kecil. BRI, BCA, dan Mandiri, membukukan laba di tahun 2012, masing-masing lebih dari Rp15 triliun. Dalam hal laba, BRI membukukan laba terbesar. Dalam hal nilai intangible asset, BCA-lah yang terbesar. Nilai kapitalisasi ini sudah pasti banyak ditopang oleh nilai intangible asset-nya yang berasal dari ekuitas merek. Di akhir tahun 2012, BCA memiliki nilai buku hanya sebesar Rp50 triliun, tetapi nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp194 triliun.

Apa kesimpulannya? Industri perbankan akan memiliki kecenderungan untuk terkonsolidasi. Bank-bank kecil dan menengah suatu saat akan memilih melakukan merger untuk menghadapi persaingan bank-bank besar yang semakin dominan. Skala ekonomi dan kekuatan merek akan menjadi key success factor untuk industri perbankan, big brands keep stronger! Anda bisa melihat dari pergerakan grafik selama tujuh tahun di bawah ini. Top Brand Index dari peraih Top Brand Award untuk industri perbankan dan keuangan cenderung naik.

Grafik 1. Top Brand Index dari Peraih Top Brand Award Industri Perbankan dan Keuangan

big brands big trouble

Industri apa lagi yang memiliki fenomena seperti perbankan? Salah satunya adalah industri farmasi. Top Brand Index dari pemimpin pasar atau para peraih Top Brand Award dari tiap-tiap kategori produk farmasi mengalami kenaikan selama tujuh tahun terakhir. Merek-merek dari pemimpin pasar semakin dominan. Biaya R&D dan biaya komunikasi yang semakin besar membuat banyak pemain kecil semakin sulit untuk mengembangkan mereknya. Di sisi lain, merek-merek yang meraih predikat Top Brand cenderung mampu mengembangkan mereknya dengan melakukan perluasan merek. Mereka terus menciptakan produk baru, baik dengan fitur yang baru atau kategori baru sebagai upaya untuk memperkuat merek.

Kekuatan merek dari peraih Top Brand Award ini sekali lagi sejalan dengan kenaikan laba perusahaan dan nilai kapitalisasi pasar. Top Brand Index membuktikan diri sebagai parameter yang baik untuk memprediksi harga saham dan nilai kapitalisasi perusahaan di masa mendatang.

Grafik 2. Top Brand Index dari Peraih Top Brand Award untuk Industri Farmasi.

big brands big trouble

Big Brands Big Trouble

Dua industri di atas adalah contoh industri dimana merek-merek papan atas cenderung akan mendominasi. Adakah industri yang memiliki kecenderungan yang terbalik? Cukup banyak dan salah satunya adalah industri otomotif. Anda bisa melihat grafik di bawah ini untuk industri otomotif.

Grafik 3. Top Brand Index Peraih Top Brand Award di Industri Otomotif

big brands big trouble

Industri otomotif cenderung terfragmentasi. Konsumen memiliki selera yang semakin beragam dan industri ini cenderung semakin customized. Tidak mengherankan, industri ini memiliki peluang bagi merek-merek baru untuk menancapkan mereknya. Loyalitas dalam industri ini juga semakin melemah.

Toyota Kijang dulu menjadi merek sangat perkasa dan boleh dikatakan tiada taranya—seperti slogan merek ini. Kemudian, selama enam tahun terakhir ini, indeksnya mulai tergoyahkan dengan kemunculan merek Avanza dan Xenia. Selain itu, munculnya berbagai model dan inovasi baru juga merek-merek yang sebelumnya tidak melirik pasar MPV, sudah semakin menggoyahkan merek-merek papan atas. Big brands big trouble!

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized