Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Buatan Luar Negeri dong

Monday, 04 June 2007

Pada tahun 2005, total impor produk dari Cina ke Indonesia menurut versi BPS tercatat sebesar US $ 202.702 juta sedangkan data dari pabean Cina menunjukkan angka yang kira-kira tiga kali lipat. Cukup mengherankan bahwa terdapat perbedaan data yang demikian besar. Jadi, menurut BPS, selama 5 tahun terakhir ini, pertumbuhan produk impor dari Cina ke Indonesia sekitar 60% sedangkan menurut pabean Cina, bisa mencapai 300%.

Sebenarnya, tidaklah terlalu sulit untuk meragukan data yang dilansir oleh BPS. Sebagai marketer atau bahkan sebagai konsumen awam, kita bisa dengan mudah melihat betapa serbuan produk Cina ke pasar Indonesia sudah terlihat makin hebat. Dalam bidang elektronik, produk Cina semakin mudah terlihat di toko-toko, bersaing dengan produk yang berasal dari Jepang, Korea atau buatan Indonesia.

Lebih hebat lagi, kalau kita menengok industri mainan dan boneka. Kira-kira sekitar 70% boneka yang ada di pasaran Indonesia adalah buatan Cina. Demikian pula untuk produk seperti tekstil, bahan bangunan, suku cadang dan telekomunikasi. Dominasi produk-produk Cina semakin terlihat. Tidak jarang, harga dari produk Cina bisa sama dengan harga bahan baku yang harus dibayarkan oleh perusahaan Indonesia. Jelas, sangatlah sulit perusahaan Indonesia kemudian untuk bersaing.

Sebagian besar komentar dari para pelaku bisnis di Indonesia terhadap produk Cina adalah harganya yang murah dan bahkan, kadang-kadang super murah. Ini adalah asosiasi yang kuat pula dalam benak konsumen Indonesia. Walaupun demikian, asosiasi ini sudah mulai semakin bergeser. Konsumen mulai menyadari bahwa produk buatan Cina, ada beberapa yang sudah menunjukkan kualitasnya yang baik. Tidak mengherankan, sebagian konsumen Indonesia, akhirnya mau memilih produk Cina, oleh karena memberikan value yang tinggi ; harga yang murah tetapi kualitas yang masih cukup bagus atau bagus.

Sejalan dengan perubahan asosiasi dari produk Cina ini, beberapa importir produk Cina, mulai menggunakan nama Cina sebagai endorser untuk meyakinkan bahwa produk yang mereka beli memiliki kualitas yang baik. Pelan tapi pasti, trend ini akan terus terjadi. Mungkin 10 tahun lagi, jumlah produk yang mengkomunikasikan bahwa produknya adalah buatan Cina, akan sama dengan kondisi hari ini, dimana banyak produk mengatakan bahwa produk mereka adalah buatan Amerika, Jepang, Jerman atau Korea.

Country of Origin (COO)

Bahwa konsumen Indonesia memiliki persepsi bahwa buatan luar negeri lebih baik, adalah hal yang tidak terbantahkan. Survei yang dilakukan oleh Frontier misalnya, untuk lebih dari 90%produk, persepsi buatan luar negeri, selalu lebih baik dibandingkan dengan buatan dalam negeri atau buatan Indonesia. Tentunya, ada banyak alasan yang membuat persepsi ini terbentuk. Pertama, memang buatan luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik. Konsumen sudah mencoba, membandingkan dan akhirnya tertanam dalam persepsi mereka bahwa buatan luar negeri adalah lebih baik.

Alasan kedua adalah karena faktor gengsi. Dengan membeli atau menggunakan produk luar negeri, terutama bila negara tersebut memang negara yang memiliki gengsi yang lebih baik, maka konsumen merasa lebih bangga. Mereka bangga karena menjadi bagian konsumen global. Mereka bangga, karena mampu membayar dengan harga yang lebih tinggi. Alasan ketiga, bisa terjadi karena memang nasionalisme dari konsumen Indonesia memang rendah.

Bangsa Korea atau Jepang misalnya, walau tahu bahwa untuk beberapa produk, buatan dari negara Amerika atau Eropa lebih baik, tetapi mereka tetap mau menggunakan produk dalam negeri sendiri karena adanya perasaan nasionalis. Kecuali, bila memang value yang ditawarkan berbeda demikian jauhnya. Ini jelas menguntungkan untuk industri domestik mereka. Pemerintah tidak perlu memerintahkan proteksi yang berlebihan agar industri dalam negerinya mampu bersaing.

Dengan mengetahui karakter konsumen Indonesia seperti ini, maka penggunaan country of origin sebagai endorser, semakin marak. Sebagai marketer kita tahu, bahwa suatu merek agar memiliki ekuitas tinggi, menghasilkan daya tarik dan loyalitas yang tinggi, haruslah memiliki banyak asosiasi yang positif dan yang sesuai dengan purchase motive dari konsumen. Asosiasi-asosiasinya ini, dapat dibantukan melalui strategi positioning yang tepat melalui fitur, benefit atau hal-hal yang bersifat emosional seperti pengalaman konsumen.

Asosiasi lain yang dapat dibentuk dan dilekatkan kepada suatu merek adalah melalui pembentukan asosiasi sekunder. Ini bisa berupa penggunaan artis top yang memiliki asosiasi dan personality yang sama dengan yang diinginkan oleh merek tersebut. Endorser lain adalah nama negara pembuat atau yang dalam marketing biasa dikenal sebagai country of origin (COO) effect.

Efek dari COO ini berupa peningkatan image, sebagai faktor untuk diferensiasi dan yang terpenting, kemampuan produk tersebut untuk dapat memasang harga yang lebih tinggi. Karena banyak marketer tahu dampak dari COO sebagai endorser ini, tidak mengherankan, betapa banyaknya produk yang kemudian melekatkan nama negara asal.

Dalam text book Amerika, dampak dari COO ini tidak banyak dibahas. Maklum, karena memang tidaklah terlalu relevan. Amerika percaya bahwa produknya relatif cukup baik. Kalaupun tidak, mereka lebih menentukan membeli berdasarkan value dan bukan karena melihat nama negara pembuat. Buat mereka, asalkan produk tersebut memberikan value yang lebih, harga yang wajar dengan kualitas yang tinggi, maka mereka akan memilih merek tersebut, terlepas negara mana yang membuat.

Jadi, kita dapat melihat perbedaan yang besar antara konsumen di Amerika dan konsumen Indonesia. Dampak dari COO ini, jelas jauh lebih besar untuk konsumen Indonesia.

Lihat saja untuk berbagai industri. Dalam industri makanan dan minuman, banyak produk yang menyatakan bahwa makanan mereka adalah dari Amerika. Ini menjadi pemicu sebagian konsumen Indonesia untuk membentuk persepsi yang positif dan akhirnya memilih produk tersebut. Dalam industri elektronik, semua produk buatan Jepang dihargai lebih mahal. Untuk produk kosmetik, maka produk buatan Perancis dan Amerika akan dipersepsi lebih bagus. Untuk produk otomotif, maka Jerman dan Jepang adalah endorser yang baik.

Hasil survei Frontier yang berhubungan dengan dampak COO terhadap keinginan konsumen Indonesia untuk membeli lebih mahal memang agak mengejutkan. Hanya karena persepsi bahwa produk tersebut dibuat dari suatu negara yang memiliki persepsi lebih baik dari negara Indonesia, maka konsumen siap membayar dengan harga yang lebih mahal. Misalnya, untuk produk elektronik, maka setiap produk buatan Jepang, haruslah berharga sekitar 30% hingga 50% lebih tinggi dibandingkan dengan produk dalam negeri.

Untuk produk seperti kosmetik, perbedaan menjadi sangat besar. Bila suatu kosmetik atau parfum meng-klaim bahwa produk mereka adalah berasal dari Perancis, maka konsumen Indonesia sudah siap untuk membayar sekitar 200% hingga 500% ; berarti 2 hingga 5 kali lipat. Dan contoh ini akan terus berlanjut untuk kategori produk lainnya.

Bahkan untuk produk-produk pertanian saja, dampak dari COO ini juga jelas. Kalau semua buah dari Thailand, maka konsumen sudah siap membayar harga lebih mahal. Bahkan untuk jeruk saja, nama Pakistan sudah lebih menjual dari Pontianak.

Lalu, untuk produk dalam negeri, strategi dan langkah apa yang harus ditempuh untuk menghadapi hal ini? Apakah justru kemudian bersama-sama menggalakkan kampanye ”Aku Cinta Produk Indonesia“. Ini sungguh dilematis. Apakah perusahaan mampu melawan arus persepsi yang terbentuk saat ini? Kongkritnya, apakah perusahaan berani untuk melawan arus dan menetapkan bahwa buatan Indonesia juga bagus kepada konsumen?

Menurut pandangan saya, ada 2 hal yang dapat dilakukan. Pertama, marketer Indonesia yang kebetulan bekerja untuk perusahaan lokal atau merek asli dari Indonesia, haruslah melihat berapa besar dampak dari klaim COO ini. Beberapa produk seperti semen, justru buatan Indonesia dipersepsi lebih baik. Bila ini terjadi, maka, pastilah, dampak klaim COO dari para pesaing tidak akan mengkhawatirkan.

Kedua, Bila kita memiliki produk dimana dampak klaim COO akan besar, maka kita perlu membuat beberapa alternatif strategi. Bisa saja kita memilih segmen yang lain. Dampak COO ini biasanya memang lebih hebat untuk segmen kelas ekonomi atas. Oleh karena itu, marketer dari produk dalam negeri bisa melakukan resegmentasi. Alternatif lain adalah memposisikan atribut positif sebagai merek dalam negeri. Sari Ayu misalnya, memposisikan kosmetiknya sebagai merek kosmetik yang mempercantik wanita Indonesia karena mereka mengerti kebutuhan dan keinginan wanita Indonesia. Bahan-bahan yang mereka gunakan, adalah sesuai dengan kondisi kulit wanita di Indonesia.

Bila dampak COO sedemikian dahsyat, mau tidak mau, merek tersebut haruslah diberi warna internasional. Ini bisa dilakukan dengan cara co-branding dengan merek internasional. Co-branding bisa dilakukan dalam konteks ingredient branding, yaitu bahwa produk kita, juga menggunakan bahan yang berkualitas internasional. Ini bisa dilakukan untuk para pembuat komputer dalam negeri. Kita juga menggunakan Intel sebagai prosesor. Dengan cara seperti ini, kita mengeliminasi sebagai dari kekuatan produk impor karena kita juga menggunakan bahan yang memiliki reputasi internasional pula.

Melihat trend ke depan, sungguhlah tidak mudah bagi marketer yang menangani produk buatan dalam negeri. Pemerintah pada akhirnya, sebagai stakeholder yang harus mengelola sebuah merek besar yang terkenal di Indonesia. Indonesia sebagai merek, bila ekuitasnya turun, sebenarnya memiliki dampak yang sangat besar terhadap kemampuan merek dalam negeri harus bersaing. Celakanya, konsumen kita sungguh tidak bisa dikontrol ; semakin saja menyukai produk buatan luar negeri. “Buatan luar negeri, dong…!” pinta mereka.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized