Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Haji Lulung, Lee Kuan Yew, dan Brand Story Anda

Wednesday, 31 December 1969

Kemampuan story atau cerita untuk membangun merek bukanlah hal yang baru. Di masa lalu, story sudah banyak digunakan untuk membangun merek. Merek-merek global yang lama seperti Coca-Cola? dan Nike memiliki banyak story yang memberi kontribusi terhadap kehebatan ekuitas merek ini. Hanya saja, cara komunikasi seperti itu relatif lambat dan kontribusinya tidaklah besar terhadap pembentukan merek.

Di masa kini, brand story atau story-telling semakin menjadi bagian komunikasi yang penting. Faktor terbesar tentunya? adalah kehadiran media sosial. Adanya media sosial inilah yang membuat peran story-telling menjadi semakin penting untuk membangun merek.

Kalau tidak ada media sosial, maka cerita satire soal #savehajilulung tidak akan mampu menyebar kilat. Hashtag (tagar) ini bahkan sempat bertengger di nomor 1 trending topic di seluruh dunia. Walau hanya disampaikan tidak lebih dari 140 karakter, ini menjadi bahan cerita yang menarik karena sosok antagonis dari karakter yang diceritakan.

Ketika Lee Kuan Yew wafat di akhir Maret yang lalu, cerita heroik mantan perdana menteri Singapura tersebut menyebar di seluruh dunia dengan cepat. Cerita Lee Kuan Yew yang berpesan kepada anaknya, agar abu jenasah dia disatukan dengan abu jenasah istrinya, dibaca ratusan juta orang. Istri-istri di seluruh dunia kemudian menceritakan hal ini kepada puluhan, ratusan, dan ribuan orang, melalui berbagai chat dan e-mail. ?

Mengapa story-telling menjadi menarik? ?Sederhana! Sebuah story akan menciptakan emosi yang menghubungkan antara pembaca atau pendengar cerita dengan karakter dari cerita dan juga yang menciptakan cerita. Ketika seseorang mendengar cerita, entah sesuatu yang heroik, humor atau menyedihkan, akan timbul emosi. Emosi inilah yang membuat audiens menjadi ingat dan memiliki perasaan terkoneksi.

Brand Story

Bila sebuah story menimbulkan emosi yang menghubungkan, tentunya story tentang merek juga memiliki potensi untuk menghubungkan pelanggan dan merek yang menjadi bagian dari cerita. Padahal, inilah inti dari sebuah merek yang kuat, yaitu loyalitas pelanggannya yang terhubung dengan ikatan emosional.

Sebuah story yang baik adalah yang bersifat personal dan membangkitkan emosional. Tidak mengherankan, cerita mengenai seseorang seperti Jokowi, Ahok, Haji Lulung, atau Lee Kuan Yew sangat mudah menarik dan menjadi viral. Ini karena bersifat personal. Tokoh dan karakternya jelas.

Bagaimana dengan brand story? Inilah tantangannya, bagaimana membuat story mengenai merek terasa personal dan emosional. Marketer perlu semakin kreatif untuk mendesain brand story. Salah satu caranya adalah mencari sumber-sumber otentik dari merek tersebut.

Pertama, sebuah merek yang memiliki sejarah adalah sumber story yang menarik. Ini bisa berupa sejarah bagaimana merek dibangun atau sejarah mengenai pendirinya. Sari Ayu dan Mustika Ratu adalah contoh merek yang memiliki sejarah pendiri yang kuat. Tidak mengherankan, merek ini kemudian memiliki brand story yang berhubungan dengan pendirinya. Banyak konsumen dari kedua merek ini memiliki ikatan emosional dengan figur pendiri merek tersebut.

Penerus bank NISP, Karmaka Surjaudaja adalah sosok penuh dengan story. Perjuangannya untuk membawa bank NISP menjadi bank besar dan akhirnya merger dengan bank OCBC, merupakan brand story yang sangat kuat. Setelah Dahlan Iskan menulis sosok Karmaka dan kemudian E-Motion dan Majalah Marketing mengangkatnya dalam film Love & Faith, banyak nasabah memiliki persepsi baru yang semakin positif terhadap bank ini.

Kedua, sumber brand story lain adalah keunikan dari produk atau layanan. Teh Pucuk memiliki keunikan yang bisa diceritakan. Merek ini mungkin tidak memiliki story seperti Teh Sosro, tetapi keunikan produk ini—seperti yang diklaim, bila benar bisa menjadi brand story. Konsumen bisa menikmati cerita kreatif bagaimana merek ini memiliki kebun teh dan hanya memanfaatkan bagian pucuk untuk diolah menjadi teh siap saji.

Ketigabrand story bisa dibangun dari apa yang menjadi visi dan tujuan merek itu hadir. Tupperware adalah contoh yang baik untuk hal ini. Merek tersebut memiliki visi untuk memberdayakan kaum perempuan. Dengan slogannya, Yes She Can!, Tupperware ingin memberi kesempatan para perempuan untuk mandiri, percaya diri, dan berjuang untuk sukses. Tidak mengherankan, Tupperware di Indonesia yang sukses ini dibangun di atas ribuan cerita soal perjuangan para perempuan untuk meraih mimpinya bersama perusahaan tersebut.

Keempat, sebuah brand story juga bisa dibangun dengan cerita sekitar solusi yang ingin diberikan kepada konsumen dan pelanggannya. Nike dan Reebok sering bercerita soal inovasi untuk membuat atlet memiliki prestasi setinggi mungkin. Brand story yang mereka bangun soal teknologi sepatu agar atlet bisa mencapai prestasi terbaik, telah menjadi cerita viral yang efektif.

Kelimabrand story bisa dibangun melalui event yang spektakuler atau membuat orang kagum. Ini bisa karena pencapaian penjualan atau seputar pencapaian besar dari perusahaan. Misalnya, sebuah merek yang telah mampu diekspor ke banyak negara atau sebuah merek yang sudah mencapai penjualan fantastis. Angka-angka pencapaian ini bisa menjadi brand story yang menarik.

Setelah brand story diciptakan dan dipilih, marketer perlu memilih media yang tepat. Kalau story itu pendek, maka bisa dikenal dalam bentuk iklan yang akhirnya bisa menggunakan media cetak dan televisi. Bila brand story itu panjang, maka media seperti website atau film layar lebar adalah pilihan yang baik. Sudah pasti di era digital ini, media sosial adalah sebuah keharusan sebagai media utama atau media pendamping.

Bahwa brand story memengaruhi penjualan sudah pasti mudah dijelaskan. Brand story yang kuat, kreatif, personal, dan emosional, akan menciptakan persepsi yang positif dan koneksi emosional. Konsumen atau pelanggan akan siap untuk memiliki preferensi yang tinggi terhadap merek ini dan akhirnya loyal.

Cerita soal Haji Lulung, Ahok, atau Lee Kuan Yew telah membuktikan kekuatan story-telling.? Sekarang, giliran Anda untuk memikirkan brand story untuk merek Anda sendiri. Tentunya, brand story Anda adalah seputar karakter merek yang protagonis dan bukan antagonis.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized