Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Great Analytical Marketer

Monday, 10 November 2014

Great marketer adalah mereka yang mampu mengoptimalkan kemampuan otak kanan dan otak kirinya. Melalui kemampuan otak kanannya, mereka harus memiliki original thinking, creative thinking, observational thinking, dan holistic thinking. Melalui otak bagian kiri, great marketer haruslah mengembangkan kemampuan dalam hal analytical thinking, volume thinking, dan pragmatic thinking.

Harus diakui, peran otak kanan semakin penting. Apalagi, marketer yang masuk dalam industri yang membutuhkan banyak kreativitas dan inovasi, semakin banyak menggunakan sisi otak kanan. Fenomena ini sering kali mulai kebablasan. Banyak marketer atau bahkan top manajemen berpikir bahwa marketer yang hebat haruslah kreatif dan memiliki EQ tinggi semata.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin sekali berbagi untuk memberikan keseimbangan. Saya ingin agar para marketer yang saat ini menempati posisi di middle-management mengembangkan kemampuan analitikalnya. Kreativitas tanpa analitikal akan menjadi sebuah produk unik yang tidak relevan bagi konsumen. Mereka boleh memiliki ide kreatif, tetapi akhirnya tidak menghasilkan laba bagi perusahaan karena konsumen tidak melihat sebagai produk yang pas dengan keinginan dan harapan mereka.

Perusahaan-perusahaan kelas dunia adalah perusahaan yang biasanya memiliki kemampuan analitikal yang sangat baik. Bahkan di antaranya mengakui bahwa hal ini bisa menjadi bagian dari keunggulan bersaing mereka. Perusahaan seperti Wal-Mart, Amazon.com, Google, FedEx, dan perusahaan kelas dunia lainnya, termasuk deretan perusahaan yang memiliki kemampuan analitikal papan atas. Mereka benar-benar membuat keputusan berdasarkan analisis dan penyusunan model. Tidak mengherankan, walau tidak sepenuhnya selalu benar karena dinamika pasar, perusahaan-perusahaan ini mempunyai peluang untuk selalu lebih inovatif dan berpikir selangkah lebih maju dibandingkan para pesaingnya.

Dalam dunia olahraga pun sudah sering kita dengar. Klub-klub NBA, misalnya, mereka memiliki eksekutif yang mampu melihat angka-angka selama pertandingan dan mengolahnya menjadi suatu model untuk membuat keputusan dalam pertandingan. Daryl Morey, MBA lulusan MIT, direkrut oleh Houston Rockets untuk membuat berbagai analisis yang menghasilkan prediksi untuk pertandingan yang akan datang. AC Milan memiliki Milan Lab yang posisinya diisi oleh mereka yang analitikal, untuk membuat prediksi mengenai kemungkinan para pemain akan mengalami luka. Mereka menggunakan data-data fisik, ortopedi, dan psikologis para pemain.

Apakah Perusahaan Anda Analitikal?

Yang disebut dengan kemampuan analitikal adalah kapasitas perusahaan atau individu dalam penggunaan data, statistik, analisis kuantitatif, berbagai model dan pengelolaan fakta untuk membuat keputusan dan implementasi yang lebih efektif.

Thomas Davenport, profesor dalam bidang analitikal, membagi perusahaan dalam lima level sehubungan dengan kemampuan analitikal perusahaaan. Level pertama adalah perusahaan yang disebut sebagai Analytically Impaired. Inilah kelompok dimana dalam sebuah meeting, sering dilontarkan pertanyaan tunggal; apa yang terjadi dengan bisnis kita? Bagaimana penjualan? Setelah itu, tidak ada pertanyaan susulan karena memang tidak ada parameter pengukuran pencapaian yang digunakan perusahaan ini.

Level kedua adalah Localized Analytics. Perusahaan ini sudah mulai memiliki data di masing-masing divisi. Mereka menggunakan data untuk membuat perbaikan di divisinya. Mereka senang bertanya bagaimana membuat sebuah program atau aktivitas lebih baik tetapi masih terkotak-kotak dan tidak menyentuh tingkat korporasi.

Level ketiga disebut dengan Analytical Aspirations. Perusahaan sudah mulai mengintegrasikan data dari berbagai divisi. Mereka ingin melihat masa depan dengan mempelajari data di masa lampau. KPI dari perusahaan ini sudah jelas seperti pencapaian pangsa pasar, kekuatan merek, dan loyalitas pelanggan. Biasanya perusahaan sudah memiliki tenaga profesional yang menyukai angka dan membuat analisis untuk melakukan ekstrapolasi data ke masa mendatang.

Level yang lebih tinggi yaitu level keempat, adalah Analytical Company. Perusahaan sudah menggunakan kemampuan analitikal untuk membuat inovasi dan menciptakan keunggulan bersaing. Perusahaan sudah membangun kemampuan analitikalnya di level korporasi dan menyatukan kemampuan analitikal di masing-masing divisi. Walaupun demikian, kunci sukses perusahaan ini masih karena hal-hal lain seperti kualitas produk, distribusi, atau aspek strategi lainnya.

Pada tingkat tertinggi, level kelima, disebut sebagai Analytical Competitors, adalah perusahaan yang menjadikan kemampuan analitikal sebagai driver utamanya. Mereka jauh lebih hebat dibandingkan pesaingnya dalam hal database, analisis, dan menggunakannya untuk menciptakan penjualan, kepuasan dan loyalitas pelanggan, membangun merek yang kuat, dan selalu berada di depan dibandingkan para pesaingnya.

Studi juga menunjukkan bahwa perusahaan yang masuk level 4 dan 5 biasanya memiliki kinerja yang lebih baik. Kemampuan analitikal tersebut tidak bisa dianggap biasa. Inilah kemampuan yang tidak mudah ditiru. Inilah kemampuan yang membuat perusahaan mampu beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang baru dan berubah cepat. Mereka umumnya dapat membuat keputusan lebih cepat dan lebih baik saat lingkungan bisnis berubah cepat.

Lihat saja para operator hotel kelas dunia yang semakin berkibar, dan banyak operator nasional sulit bersaing dengan mereka. Kelebihan operator seperti Marriott, Ritz Carlton, Hilton, dan sejenisnya adalah mengenai penggunaan data. Mereka memiliki database yang lebih baik. Mereka menggunakan analisis data untuk memprediksi perilaku pelanggan di masa mendatang. Kemudian, mereka pun menggunakan pola data untuk membuat keputusan bisnis baik yang menyangkut inovasi maupun ekspansi.

Tingkatkan Level

Bagaimana dengan perusahaan Anda? Di level manakah berada? Bila di level 1 dan 2, Anda sungguh perlu untuk berbenah. Dengan tingkat kompetisi yang sudah semakin tinggi, setiap perusahaan perlu masuk di level 3. Bila perusahaan Anda masuk dalam industri seperti bank, asuransi, telekomunikasi, airline, dan industri dimana database sangat tersedia, maka perlu langkah untuk membawa perusahaan pada level 4. Tingkat level 5 adalah tingkat yang tentunya sulit dan belum tentu perusahaan harus mencapainya. Ini tergantung seberapa penting kemampuan analitikal dapat digunakan sebagai senjata untuk menciptakan keunggulan bersaing.

Bila perusahaan akan menaikkan levelnya, apa saja yang perlu dibenahi? Elemen pertama, sudah pasti adalah sumber daya manusia. Dibutuhkan pemimpin atau top manajemen yang mempunyai komitmen untuk mengembangkan kemampuan ini. Tanpa dukungan dari mereka, pengalaman saya sebagai konsultan, mustahil terbentuk. Saya melihat dan mengikuti dari berbagai perusahaan yang sudah berhasil melakukan transformasi ke level yang lebih tinggi. Selain komitmen, perusahaan membutuhkan figur pemimpin yang suka membuat keputusan berdasarkan fakta untuk memprediksi masa depan. Kemudian, mereka adalah pemimpin yang mengerti membangun tim analitikal, mengembangkan mereka, dan menempatkan pada posisi yang tepat.

Selanjutnya, perusahaan itu sendiri haruslah membangun struktur yang memungkinkan agar orang-orang analitikal ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka memiliki desain database, pengolahannya, penggunaannya yang terintegrasi. Elemen dari key performance indicator dari individu dan setiap divisi sudah menggunakan berbagai metrik. Elemen lain yang perlu dibangun tentunya adalah perangkat teknologi, kualitas data, dan database. Tidak bisa dihindari, perusahaan haruslah melakukan investasi untuk membangun teknologi dan sistem informasi data maupun strukturdatabase.

Apa peran kita sebagai marketer? Apakah pekerjaan di atas hanyalah untuk pemimpin puncak dan mereka yang ada di divisi IT? Tidak. Justru inilah era saat marketer bisa mengambil peran yang semakin besar. Kemampuan analitikal haruslah menjadi keputusan bisnis yang berdasarkan pasar; sesuai dengan kebutuhan pelanggan, mengikuti perkembangan ekonomi, teknologi, dan kompetisi.

Sebagai marketer kita harus kreatif dan penuh imajinasi. Tetapi, pekerjaan kita bukan berhenti sebagai seniman yang kreatif. Kita bekerja untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik. Saya sudah melihat bagaimana banyak marketer yang kemudian menjadi anggota top manajemen yang baik karena memiliki kemampuan analitikal. Akhirnya juga terbukti, mereka adalah CMO atau CEO yang berhasil. Inginkah Anda sebagai marketer menuju puncak karier? Be a Great Analytical Marketer.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized