Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

BB dan BBM : Beda Nasib

Wednesday, 07 May 2014

Kalau kekuatan indeks Blackberry di Indonesia semakin melemah, pastilah mudah diduga. Di seluruh dunia, Blackberry sedang mengalami krisis yang hebat dan pangsa pasarnya di tahun 2013 turun drastis. Dari hasil survei yang dilakukan Frontier Consulting Group terhadap Top Brand Index untuk kategori ponsel pintar di tahun 2014 menunjukkan bahwa indeks Blackberry adalah 44.3%. Indeksnya yang masih cukup tinggi dan saya yakin, tahun depan akan menurun walau lebih lambat daripada penurunan di dunia.

Bila survei dilakukan untuk pasar remaja, penurunan Blackberry ini sudah mulai terlihat. Di tahun 2013 Blackberry memiliki indeks sekitar 59% dan kemudian di tahun 2014, Top Brand Index-nya hanya 43.6%. Dengan demikian terlihat jelas bahwa untuk pasar remaja, kekuatan merek Blackberry mengalami penurunan yang lebih tajam. Ini juga sekaligus memberikan gambaran akan suramnya Blackberry di masa mendatang. Pasar remaja ini adalah pasar masa depan yang menentukan tren di masa mendatang.

Walaupun demikian, hasil survei dari Frontier untuk Top Brand Index ini pasti masih membuat Blackberry Indonesia cukup gembira. Di Amerika, Blackberry pernah mengklaim sebagai merek untuk ponsel pintar yang memiliki pangsa pasar terbesar. Tiba-tiba, dalam hitungan kurang dari 3 tahun, pangsa pasarnya melorot hingga di bawah 10 persen. Blackberry memang memiliki kinerja yang unik di Indonesia.

BBM VS BB

Sekilas Suksesnya

Merek Blackberry atau yang sering disebut BB di Indonesia ini melejit dalam waktu yang singkat di tahun 2010. Sebuah merek yang menjadi kebanggaan dari para penggunanya. PIN nya yang merupakan deretan 8 digit huruf dan angka, menjadi sebuah deretan yang penuh makna bagi para pemiliknya. PIN ini pernah menjadi alat ampuh bagi BB untuk memperoleh pangsa pasarnya. Banyak masyarakat kelas atas yang akhirnya membeli BB karena tidak ingin ditanya PIN nya. Tidak memiliki PIN bagi seorang yang memiliki jabatan di perusahaan, seolah-olah ada status yang hilang. Kebanggaan memiliki PIN ini jauh lebih tinggi daripada kebanggaan memiliki nomor seluler.

Peran operator yang terus mempromosikan BB ini, merupakan amunisi yang luar biasa bagi kemajuan BB. Walau sebenarnya operator ini juga kesal dengan BB yang mengenakan biaya yang besar untuk mereka yaitu sekitar 6 dollar per bulan per pengguna, mereka terpaksa harus berlomba-lomba untuk menawarkan paket BB demi mempertahankan pangsa pasar dan besarnya ARPU dari para pelanggan ini. Bagi BB, ini sungguh menjadi promosi gratis dari para mitra-mitranya.

Peran BBM adalah sungguh vital bagi perkembangan BB di Indonesia. Indonesia menjadi contoh yang tertinggi Research in Motion saat itu, tentang keberhasilan BBM. Bahkan seloroh dari beberapa petinggi RIM adalah bahwa Indonesia adalah negara yang paling banyak memiliki grup BBM di BB nya dan tertinggi pula dalam hal jumlah anggota tiap grupnya. Adalah hal yang biasa bagi pemilik ponsel BB untuk memiliki grup BBM dengan keluarganya, dengan para alumni sekolah mulai dari SD hingga universitas, dengan kolega di kantornya yang satu departemen atau antar departemen dan dengan komunitas gaya hidup, mulai dari komunitas yang tidak penting hingga komunitas yang serius. Tidak mengherankan, memiliki 10 grup BBM adalah hal yang biasa.

Akankah Bertahan?

Karena itu, keberhasilan dan kegagalan BB boleh dikatakan fenomenal dalam hal kecepatannya. Merek yang demikian perkasa, tiba-tiba meluncur tajam dan tidak mampu bersaing dengan merek ponsel pintar lainnya. Dalam konteks pasar Indonesia, apa penyebabnya ?

Pertama, karena lambatnya perkembangan aplikasi dari BB. Android yang dimotori oleh Samsung dan iOS dari iPhone membuat keperkasaan BB mulai meredup. Para pengembang aplikasi yang besar lebih memilih Android karena melihat kelebihan dan masa depannya. Tidak mengherankan, perpindahan pelanggan BB yang pertama terjadi adalah dari segmen yang haus terhadap aplikasi-aplikasi yang baru.

satisfaction

Kedua, hubungan dengan BB dengan para operator Indonesia yang kurang harmonis sejak awal. Ini bisa terjadi karena BB tidak memiliki tim yang benar-benar didedikasikan untuk pasar Indonesia pada tingkat yang memadai. Oleh karena itu, operator di Indonesia selalu membaca arah angin. Mereka hanya ingin mendukung ponsel atau operating system yang memiliki masa depan yang baik dan memberikan keuntungan lebih besar. Dengan relationship yang kuat, hal-hal seperti ini, seharusnya bisa ditangani lebih baik oleh BB. Operator inilah yang memberikan pengaruh besar terhadap tingkat penjualan dari merek ponsel.

Ketiga, BB terlambat menyasar segmen kelas menengah bawah. Harga ponselnya masih belum terjangkau saat BB sudah menunjukkan penurunan. Padahal, saat BB baru berhasil menjual 3 juta, Ponsel buatan China yang diberi merek oleh perusahaan di Indonesia seperti Nexian atau Cros, sudah mampu menjual ponsel Qwerty ini lebih dari 10 juta. Banyak yang ingin memiliki BB tetapi mereka belum mampu untuk membelinya. Kalau pasar ini cepat dijangkau oleh BB, hari ini, loyalitas BB akan lebih tinggi dan nasib BB akan jauh lebih baik.

Keempat, BB juga sangat terlambat membangun jaringan pelayanannya. Keluhan-keluhan yang sudah demikian banyak dari BB, tidak tertangani dengan baik karena BB terlambat untuk membuat pusat layanan sendiri. Sebagian besar, justru menjadi beban para operator dan para distributornya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah lemotnya BB di Indonesia yang semakin dirasakan sejak tahun 2013. Terlepas dari peran operator dalam hal ini, tentunya banyak pelanggan juga memiliki persepsi bahwa ini harusnya juga menjadi tanggung jawab dari BB.

Kalau perusahaan BB sudah hampir bangkrut, nasib BBM jauh lebih baik. Perusahaan BB ini pada akhir tahun lalu, setelah banyak melakukan pemecatan karyawan dan penurunan pangsa pasar, hanya dihargai oleh investor sekitar Rp 50 triliun. Ini hanya 25% dari nilai kapitalisasi PT Telkom atau hanya seperenam dari nilai kapitalisasi     PT HM Sampoerna di Indonesia atau kira-kira setara dengan PT Axiata di Indonesia. Dan nilai Rp 50 triliun ini, tentunya hanya karena BB memiliki BBM.

Langkah BBM untuk dapat diunduh di Android dan iOS memang sudah sulit dihindari lagi. Pada posisi ini, BB akhirnya lebih memilih menyelamatkan BBM daripada ponselnya.

Bagi para marketer, studi kasus BB ini memberikan banyak pelajaran akan kekuatan komunitas. BBM inilah yang menciptakan komunitas bagi BB. Ini juga terbukti di Indonesia. Dengan komunitas BBM yang besar dan loyal, nasib BBM di Indonesia terlihat masih aman-aman saja di Indonesia untuk akhir tahun 2015. Untuk memindahkan grup BBM ke WhatsApp, membutuhkan kekompakan agar semua grup memiliki WhatsApp.

Demikian pula, puluhan juta pengguna Qwerty , yang dulu bermimpi memiliki BBM, mereka masih menanti untuk ingin mencoba. Sekali lagi, seberapa cepat BBM untuk menggarap pasar kelas menengah bawah ini, akan menjadi batu ujian terhadap kelangsungan BBM di Indonesia. Kelas menengah bawah ini, sebenarnya suatu saat, akan membantu agar pasar kelas atas BBM di Indonesia masih bisa terjaga. Ini logikanya seperti di industri telekomunikasi dan perbankan. Golongan atas pun, memerlukan rekening dari golongan menengah dan menengah bawah untuk melakukan pembicaraan atau melakukan transaksi.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized