Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Pelayanan Otentik Ala Indonesia

Monday, 20 October 2014

Banyak wisatawan mancanegara merasa nyaman dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan bila berkunjung ke berbagai daerah wisata di Indonesia seperti Bali. Mereka menyukai budaya Bali yang memang tidak mereka peroleh di negaranya. Bali memiliki keramahan yang alami. Demikian juga, kesenian dan budaya Bali yang unik, membuat wisatawan mancanegara mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.

Budaya Bali yang khas, bangunan pura Bali yang memberi citra seni yang tinggi serta cara berpakaian orang-orang Bali memberikan sentuhan yang terasa otentik. Inilah salah satu cara terbaik untuk memberikan pelayanan yang menyenangkan dan , yang diingat oleh wisatawan.

Wisatawan juga bisa merasa puas bila berkunjung ke kota-kota yang mempunyai nilai sejarah seperti di Jogjakarta. Ketika mereka masuk ke keraton Jogja, mereka akan mendapatkan keramahan alami dari para petugas keraton. Semangat pengabdian mereka yang otentik, keramahan khas Jawa, mampu memberikan aura otentik bagi para pengunjung, dan inilah yang kemudian diingat oleh turis yang sudah berkunjung ke keraton.

Harus diakui bahwa banyak tempat wisata di Indonesia yang tidak bersih dan memiliki infrastruktur dan fasilitas yang kurang memadai. Demikian juga pelayanan yang diberikan sering kali tidak cepat dan akurat. Kesemua faktor negatif ini sering kali mampu tertutupi dengan pelayanan yang bernuansa otentik.

Keputusan Garuda Indonesia untuk membuat serba Indonesia, adalah hal yang tepat. Mereka menyajikan menu khas Indonesia dan ternyata mendapat sambutan yang baik. Kalau penumpang dari negara lain yang naik Garuda Indonesia dan kemudian diberi makanan yang berorientasi makanan ala negara barat, penumpang pasti akan memiliki persepsi bahwa kualitas makanan tidak naik. Ini adalah makanan yang tidak asli Indonesia dan tidak mungkin bisa membuat makanan seenak yang otentik seperti dari Amerika.

Harapan Terhadap Otentisitas

Pelayanan otentik menjadi sesuatu yang dicari oleh pelanggan karena banyak layanan yang tidak otentik. Ketika pelanggan berkunjung ke bank, mereka melihat pelayanan yang tidak otentik. Keramahan yang tidak mencerminkan otentisitas karena tidak didukung oleh budaya. Pelanggan akan merasakan sebagai bagian dari sandiwara saja. Demikian juga saat kita pergi ke hotel dan restoran, terlihat banyak pelayanan yang tidak otentik. Pelayanan semacam ini tidak akan meninggalkan kesan yang menyenangkan atau kesan yang diingat.

Pelayanan yang otentik biasanya memang lebih diharapkan dari pelanggan yang sudah dewasa dan tua dibandingkan dengan pelanggan remaja. Ini terjadi karena pengalaman masa lalu. Pelanggan-pelanggan dewasa dan tua biasanya sudah mendapatkan banyak pengalaman yang tidak otentik. Oleh karena itu, mereka kemudian memberi nilai tambah bagi perusahaan yang memberikan pelayanan yang otentik. Pelayanan yang otentik ini, biasanya juga lebih diapresiasi oleh pelanggan dari kelompok menengah atas dan terutama segmen premium.

Di era experience economy seperti saat ini, pelayanan yang otentik semakin memainkan peran penting untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Ini juga menunjukkan bahwa pelayanan otentik asli Indonesia atau asli daerah, justru bisa menjadi pilihan yang efektif untuk memberikan pelayanan yang menyenangkan bagi pelanggan.

Bank daerah misalnya, harus semakin menonjolkan pelayanan dengan tema asli daerahnya. Bank Jawa Barat bisa memilih seragam yang mencerminkan budaya Jawa Barat. Demikian pula cara menyapa nasabah atau identitas bangunan fisik dari cabang, bisa menggunakan tema-tema budaya Jawa Barat. Begitu pula dengan bank-bank daerah lainnya, bisa menggunakan pelayanan otentik daerahnya masing-masing untuk bersaing dengan bank nasional maupun bank-bank asing. Kalau bank daerah mencoba meniru bank nasional atau bahkan bank-bank multinasional, mereka tidak akan mampu memberikan pengalaman yang unik dan menyenangkan bagi nasabahnya.

Anda tidak perlu meniru kafe kopi Anda seperti Starbucks. Pelanggan tidak akan melihat sebagai sebuah kafe yang otentik karena ini adalah kafe kopi yang dibuat oleh Amerika. Kafe Kopi Luwak terlihat otentiknya dan terlihat mampu menarik pelanggan yang banyak. Dengan mengandalkan nuansa Indonesia, mereka terlihat lebih diminati karena menjual otentisitas.

Apakah otentik itu selalu berasal dari asal atau sejarah? Tentu saja tidak! Pelayanan yang otentik bisa diciptakan dari berbagai dimensi. Salah satu dimensi adalah visi dan tujuan dari perusahaan yang kuat dan konsisten dikomunikasikan. Otentik ini juga bisa diciptakan karena perusahaan memiliki perilaku yang sangat konsisten dan akhirnya menjadi budaya perusahaan. Pelanggan akhirnya merasakan keunikan dan aura otentisitas setiap kali mendapatkan pelayanan dari perusahaan seperti ini.

Bagi Indonesia, keinginan pelanggan untuk mencari pelayanan yang otentik ini juga memberikan kesempatan untuk merumuskan apa saja yang dapat dipersepsi sebagai layanan otentik ala Indonesia. Sungguh hal yang baik bila ada komite atau satuan kerja yang merumuskan, apa saja pelayanan otentik yang bisa dijadikan standar nasional. Ini bisa masuk dalam Kementerian Pariwisata. Hal ini bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana, misalnya cara menyapa pelanggan hingga cara mengucapkan salam dan terima kasih. Lihat saja negara Jepang. Keramahan mereka terasa otentik. Ini terjadi karena keramahan mereka terlihat konsisten. Kalau sebuah perusahaan harus melakukan standarisasi pelayanan, mengapa tidak ada standarisasi pelayanan untuk Indonesia?

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized