Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Marketer Menghadapi MEA

Wednesday, 31 December 1969

Sebentar lagi kita memasuki tahun 2015 dan sebagian marketer mungkin sedang menyelesaikan rencana bisnis tahun mendatang. Saya yakin, salah satu catatan penting yang mungkin Anda pertimbangkan adalah mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada Desember 2015. Apa saja tantangan yang akan dihadapi oleh industri yang terkait dengan industri yang saya geluti? Apa saja peluangnya? Seberapa besar dampak yang ditimbulkan untuk perusahaan atau secara spesifik untuk produk saya? Inilah beberapa pertanyaan stratejik yang pasti menjadi pertimbangan Anda untuk menyusun strategi dan program bisnis di tahun 2015.

Kerja sama ekonomi ASEAN ini akan mengarah kepada pembentukan komunitas ekonomi ASEAN sebagai suatu integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil, makmur, dan berdaya saing tinggi. ASEAN yang memiliki penduduk 600 juta, tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, akan menjadi kawasan yang penting bagi perekonomian dunia. Pada prinsipnya, MEA yang sudah dipersiapkan selama 20 tahun ini memiliki 4 pilar utama.

Pertama, MEA menandai terbentuknya pasar dan basis produksi tunggal. MEA membuat kawasan ASEAN menjadi kawasan bebas untuk arus barang dan jasa. Demikian pula arus investasi, modal, dan bahkan arus tenaga kerja, akan menjadi lebih bebas. Mereka yang berprofesi dokter, pengacara, arsitek maupun bankir akan lebih mudah untuk melakukan pekerjaannya di semua negara ASEAN.

Kedua, MEA juga bertujuan menciptakan kawasan ASEAN menjadi kawasan yang berdaya saing tinggi. Negara-negara ASEAN akan membentuk kebijakan persaingan, perlindungan konsumen, kerja sama perpajakan maupun pembangunan infrastruktur yang membuat kawasan ini memiliki daya saing yang lebih kuat.

Pilar ketiga dari MEA adalah menjadikan kawasan dengan pembangunan yang lebih merata. Ini kesempatan bagi usaha kecil-menengah untuk bisa mengembangkan usahanya sekaligus juga menguntungkan negara-negara di kawasan ASEAN yang masih tertinggal.

Pilar keempat adalah terciptanya integrasi ekonomi global. MEA diharapkan akan membuat perusahaan-perusahaan di kawasan ASEAN dapat berhubungan dan berpartisipasi dengan ekonomi global.

Tantangan

Sudah banyak suara yang menyatakan bahwa sangat mungkin Indonesia tidak akan siap menghadapi MEA. Ketidaksiapan ini bisa didasarkan atas kondisi makro atau kondisi dari pengusaha Indonesia sendiri. Pesimisme pertama datang dari peringkat daya saing Indonesia yang masih kalah jauh dari Singapura, Brunei, dan Malaysia, dan sedikit di bawah Thailand. Peringkat daya saing Singapura di nomor 2, Malaysia di nomor 25, Thailand di peringkat 38, dan Indonesia di peringkat 50.

Selain masalah daya saing yang mencerminkan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur Indonesia yang tertinggal, perdagangan Indonesia dengan negara-negara ASEAN masih lebih rendah. Total ekspor Indonesia ke negara-negara ASEAN ini hanya sedikit di atas 20%. Mayoritas ekspor Indonesia lebih banyak ke negara Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat. Ini terjadi karena memang lebih banyak sumber daya alam yang menjadi andalan ekspor Indonesia.

Oleh karena itu, kekhawatiran pertama adalah bahwa saat MEA sudah berlangsung, Indonesia akan menjadi pengekspor bahan baku untuk keperluan industri di negara ASEAN lainnya dan kemudian menjadi pasar bagi produk jadi mereka. Ini kemudian akan berlanjut kepada kekhawatiran kedua, yaitu melebarnya defisit neraca perdagangan.

Kekhawatiran atau tantangan ketiga adalah semakin banyaknya arus tenaga kerja asing yang akan masuk ke Indonesia. Indonesia masih merupakan pasar terbesar di ASEAN, sekitar 3 kali lipat dari Singapura dan kira-kira 2 kali lipat dari Malaysia. Apa jadinya kalau semakin banyak tenaga medis seperti dokter yang kemudian bisa praktik di Indonesia? Sekarang saja, setiap tahun, lebih dari Rp3 triliun dikeluarkan oleh konsumen Indonesia untuk biaya pengobatan di Singapura dan Malaysia.

Lalu, bagaimana dengan profesi marketer, misalnya manajer pemasaran atau CMO? Saya yakin, MEA tidak terlalu signifikan. Profesi marketer adalah salah satu profesi yang membutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang berhubungan dengan pasar lokal. Ini jelas akan menjadi kelebihan dari setiap marketer di negara masing-masing. Yang mungkin akan sedikit mengkhawatirkan apabila profesi pemasar ini kemudian perlu akreditasi dan sertifikasi. Kita tahu, Singapura dan Malaysia lebih piawai untuk urusan ini. Marketer Indonesia yang ingin bekerja di kawasan ASEAN perlu mempersiapkan diri agar mampu bersaing menjadi manajer global. Kerja sama antara pemerintah dan pengusaha mempersiapkan talent-talent manajer berkualitas sungguh perlu dipikirkan serius dan dieksekusi.

Kesempatan

Kesempatan terbesar adalah bila Indonesia dapat dijadikan sebagai basis untuk produksi dan industri baik dari negara ASEAN ataupun negara di luar ASEAN. Jepang dan Tiongkok sudah pasti akan semakin melirik kawasan ASEAN. Mereka akan memilih salah satu negara untuk menjadi basis industri dan kemudian mengekspor hasil produknya ke seluruh ASEAN. Otomotif dan komponen otomotif sudah mulai merasakan hal ini dan terbukti membantu meningkatkan perekonomian Indonesia. Pengusaha-pengusaha Indonesia harus lebih gesit untuk menarik aliansi dan mitra dari negara maju untuk mau menjadikan Indonesia sebagai basis untuk produksi.

Salah satu industri yang memiliki potensi untuk berkembang dengan adanya MEA adalah industri kreatif. Ini salah satu industri dimana Indonesia memiliki daya saing yang baik selain industri berbasis sumber daya alam. Kombinasi dari talenta manusia Indonesia dan budaya lokal Indonesia yang mengakar kuat menjadikan industri kreatif punya potensi besar. Ini menjadikan industri kreatif Indonesia bisa ekspansi ke negara ASEAN dengan mudah.

Marketer Indonesia seharusnya bisa melihatnya sebagai peluang yang besar. Sentuhan inovasi para marketer Indonesia diharapkan dapat menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi. Inilah yang diperlukan industri di Indonesia agar tidak menjadi pengekspor bahan baku dan menjadi pasar produk bagi negara ASEAN lainnya.

Pengusaha Indonesia perlu memikirkan untuk segera ekspansi ke kawasan ASEAN terlebih dahulu. Dengan demikian, marketer di perusahaan tersebut tentu akan berkesempatan mendapatkan pengalaman global di negara lain. Semakin banyak marketer Indonesia yang memiliki pengalaman global semacam ini, dalam jangka panjang akan membantu daya saing Indonesia.

Sekali lagi, insentif dari pemerintah untuk mendorong pengusaha ekspansi ke negara ASEAN lain sungguh dinantikan. Di setiap pameran internasional di Singapura atau Hong Kong, jumlah keikutsertaan pengusaha Indonesia relatif paling kecil. Maklum, kalau di negara seperti Singapura dan Thailand, pengusaha yang ikut pameran biayanya ditanggung 50% hingga 100% oleh pemerintahnya; sedangkan di Indonesia, 100% harus dibayar oleh pengusaha. Itu merupakan contoh kecil yang menunjukkan bahwa sebenarnya marketer yang baik dimulai dari pemerintahnya sendiri. Aparat pemerintah menjadi garda depan sebagai marketer.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized