Follow us on the social network

Twitter Handi irawan Facebook Handi irawan Linkedin Handi irawan Rss feed Handi irawan

Kapan PSSI Bisa Menjadi Licensor?

Monday, 11 May 2015

Beatrix Potter mendesain sebuah boneka yang memiliki karakter tertentu dan lalu memopulerkan bonekanya yang diberi nama Peter Rabbit. Kemudian di tahun 1901, Beatrix Potter membuat perjanjian dengan penerbit Inggris. Frederick Warne and Co untuk membuat versi lain dari karakter ini dan mendapatkan bayaran atas karakter Peter Rabbit yang dia ciptakan. Inilah yang dicatat sebagai salah satu kontrak lisensi komersial yang memiliki bukti yang bisa ditelusuri. Banyak yang meyakini bahwa praktik lisensi atas sebuah nama atau karakter mungkin sudah dimulai sejak abad ke-18, hanya saja tidak ditunjukkan bukti adanya catatan komersial yang pasti.

Produk lisensi yang muncul kemudian adalah Teddy Bear, yang memiliki cerita yang unik. Saat itu, Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt—yang dikenal dengan panggilan Teddy—memiliki hobi berburu beruang. Setelah beberapa hari berburu, ternyata tidak dijumpai seekor beruang pun. Tapi pada akhirnya, pengawalnya menemukan seekor beruang yang sedang terluka parah. Teddy pun memutuskan untuk minta pengawalnya menembak beruang tersebut karena merasa kasihan.

Cerita ini lantas didengar oleh seorang kartunis dan kemudian membuat artikel berseri di sebuah surat kabar. Selanjutnya cerita ini menjadi ramai dibicarakan sampai seorang pemilik ritel menghubungi Roosevelt, minta izin agar boneka beruang di tokonya diberi nama Teddy Bear. Popularitas Teddy Bear terus naik dan pengguna merek ini memberikan sejumlah fee untuk digunakan membangun national park. Inilah bentuk lisensi merek yang kemudian juga memberikan inspirasi kepada banyak perusahaan untuk menciptakan karakter.

Di era sebelum tahun 1940, muncullah berbagai merek yang dilisensi, seperti Buck Rogers, Looney Tunes, Superman, dan Shirley Temple. Era tahun 1950-an, lisensi merek semakin cepat berkembang, mulai dari James Bond, Smurf, dan yang sensasional adalah Barbie. Pada era 1960-an, muncul karakter seperti Flinstones, Sesame Street, dan Anpanman dari Jepang.

Di era tahun 1970-an, sudah mulai banyak ide untuk melisensi produk-produk fashion. Pierre Cardin, Calvin Klein, dan Tommy Hilfiger mulai muncul sebagai licensor. Merek-merek tersebut sampai hari ini, masih menggunakan sistem lisensi dan bukan franchising. Era selanjutnya, ketika televisi dan layar lebar mampu menjangkau target pasar dengan cepat dan menjadi alat komunikasi yang sangat powerful, maka nama, merek, atau karakter yang dijadikan sebagai licensor adalah produk-produk layar lebar. Disney, Warner Bros, Universal, dan Marvel adalah studio-studio besar yang terus-menerus memproduksi karakter untuk dijadikan sebagai lisensi.

Bidang olahraga juga akhirnya banyak belajar dari konsep merek ini. Bahwa merek yang kuat dapat dijadikan sebagai alat yang ampuh untuk mencari omzet dan laba perusahaan. Maka, klub-klub olahraga, terutama sepakbola, membangun nama klubnya agar menjadi merek yang kuat. Dengan nama yang terkenal dan citra yang baik, nama klub kemudian menjadi merek yang dapat menjadi licensor. Merek mampu memproduksi banyak produk mulai dari pakaian olahraga hingga consumer products. Penghasilan dari lisensi nama klub ini saja bisa mencapai 25%. Bayangkan kalau klub sekelas Manchester United dan Real Madrid, maka ini bisa mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun.

Sampai hari ini, kalau dilihat dari jenis propertinya, maka sektor entertainment termasuk karakter, fashion, dan olahraga merupakan sektor terbesar yang berkontribusi terhadap pendapatan licensor di seluruh dunia. Kalau dilihat dari produk atau merchandizing yang diproduksi, maka pakaian, aksesori, boneka, suvenir, dan makanan/minuman adalah industri yang paling banyak memanfaatkan lisensi.

Berapa besarnya pasar lisensi? Diperkirakan, sekitar US$200 miliar produk dan merchandizing diproduksi dalam bentuk perjanjian lisensi ini. Sekitar 60% dari nilai tersebut adalah untuk pasar Amerika dan sekitar 10% saja untuk Asia, atau sekitar US$20 miliar. Untuk Asia, pasar Jepang menyerap sekitar 60%-nya dan Indonesia diperkirakan hanya menyerap 0,3% saja dari total Asia, atau 0,03% bila dibandingkan dengan pasar dunia. Besarnya pasar Indonesia ini sama dengan pasar di Thailand, Malaysia, dan di bawah pasar Singapura yang mencapai 0,5%. Kenapa Indonesia demikian kecil? Sudah pasti karena maraknya pembajakan dan tidak adanya penegakan hukum yang tegas untuk membendung produk-produk bajakan di pasar Indonesia.

Kalau pasar dari lisensi untuk produk dan merchandizing ini mencapai US$200 miliar atau setara Rp2.500 triliun, maka pendapatan pemilik merek atau licensor adalah kira-kira 10% dari angka itu. Walau hanya 10%, tingkat profitabilitasnya sangat tinggi karena biaya yang dikeluarkan sangat rendah. Praktis biaya langsungnya adalah seputar pembuatan kontrak dan supervisi pelaksanaan isi kontrak antara licensor, pemilik nama, merek atau karakter dan pihak licensee atau yang mengambil lisensi.

Keuntungan Disney dari hasil lisensi bisa mencapai puluhan kali lipat dilihat dari persentasenya dibandingkan pendapatan theme park mereka. Tingkat profitabilitas dari klub-klub besar ini bisa dua sampai tiga kali lipat dari lisensi dibanding dengan tingkat keuntungan yang diperoleh dari tiket masuk.

Bayangkan saja mobil mewah seperti Ferrari dan Lamborghini. Perusahaan ini sudah berkali-kali bangkrut dan sudah pindah kepemilikannya sebanyak 7 kali selama 40 tahun terakhir, termasuk di awal tahun 1990-an oleh 2 pengusaha Indonesia. Pemilik saat ini, yaitu Audi yang juga di bawah induk perusahaan Volkswagen, terlihat mulai bersinar.

Apakah mereka selalu untung dalam menjual mobil yang setiap tahun rata-rata hanya sekitar 2.000 unit? Tidak! Tetapi dengan menjual lisensinya dan kemudian pemegang lisensi bisa membuka toko Lamborghini, maka sekitar 10% dari semua pendapatan toko tersebut harus disetor ke Lamborghini. Praktis sudah pasti Lamborghini akan meraup keuntungan. Di Hong Kong saja, Lamborghini memiliki 11 toko.

Mengapa Menjadi Licensor?

Di atas sudah dapat dilihat dengan jelas bahwa bisnis model untuk lisensi sangat menguntungkan terutama pemilik nama, karakter atau logo. Investasi sangat minimal tetapi memberi keuntungan yang besar atau tingkat ROI yang tinggi. Ini terjadi karena memang biayanya rendah.

Apa keuntungan lain sehingga industri lisensi menjadi menarik? Pertama, melalui sistem ini, licensor mampu meningkatkan ekspor dari intelektual propertinya. Nama, logo, atau karakternya semakin populer. Lihat saja produksi film, misalnya, mulai dari Star Wars, Jurassic Park, Ice Age, atau Frozen. Dengan adanya produk-produk aksesori, suvenir atau apparel, maka film-film dengan judul yang sama ini akan sangat dikenal. Konsumen memiliki awareness terhadap Harley Davidson bukan saja dari motor, tetapi dari jaket dan t-shirt yang digunakan oleh konsumennya. Tingkat ekspor yang tinggi ini akhirnya akan mengurangi biaya iklan dari produk-produk mereka.

Kedualicensor bisa melakukan ekspansi bisnis lebih cepat dengan risiko yang lebih kecil. Mereka bisa masuk ke berbagai negara dengan cepat sekaligus bisa melihat manakah pasar yang potensial. Produk-produk merchandizing yang dijual akan memberikan gambaran atas respons terhadap produk mereka selanjutnya. Kalau karakter sudah sangat disukai di satu negara, dengan mudah dapat diprediksi bahwa kelak, bila mereka berekspansi dengan event yang membawa karakter yang sudah dikenal, akan mendapatkan kepastian mengenai keberhasilannya. Merchandizing Hello Kitty sudah sangat digemari di Indonesia. Ini dapat dijadikan sebagai landasan untuk membangun theme park Hello Kitty di dalam Dufan Ancol.

Ketigalicensing juga sangat ideal untuk pasar-pasar di mana banyak regulasi yang membatasi ekspansi perusahaan asing. Bila pihak asing dilarang untuk mendirikan perusahaan di satu negara, maka sistem licensing ini adalah salah satu bentuk yang ideal sebagai alternatif untuk bisa berpenetrasi ke negara tersebut.

Bagi industri kreatif Indonesia, ini merupakan sebuah kesempatan untuk menjadi licensor. Mereka bisa menciptakan karakter yang disukai konsumen Indonesia. Artis, musisi, atau tokoh terkenal dalam bidang seni, memiliki peluang untuk menjadi licensor. Perusahaan bisa menciptakan sebuah merek dan logo yang kuat agar dapat dilisensi. Demikian pula klub-klub olahraga terutama sepakbola, memiliki peluang sangat besar karena jumlah penggemarnya yang banyak. Selain populer tentunya harus ada citra yang bagus dan karakter yang disukai. Inilah persyaratan licensing bisa terjadi. Ketika konsumen bangga menggunakan kaus PSSI, bangga menggunakan tas PSSI, maka nama PSSI bisa menjadi licensor. Kalau PSSI dibekukan dan dianggap tidak berkualitas, siapa yang mau membeli kaus dan tas merek PSSI dengan harga premium? Mungkin hanya pengurus dan pengikutnya saja.

Go Back | On Top

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Articles Category

 

Email Subscriptions

Dapatkan Artikel Terbaru Handi irawan D.
Silakan Masukan Email Anda :

Delivered by FeedBurner

 

Popular Articles

Karakter dan Perilaku Khas Konsumen Indonesia
Tuesday, 29 May 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Customer Value
Wednesday, 26 Mar 2008 - Uncategorized

Integrated Marketing Communication
Tuesday, 28 Oct 2008 - Uncategorized

Buatan Luar Negeri dong
Monday, 04 Jun 2007 - The Uniqueness of Indonesian Consumer

Baidu Vs Google
Monday, 03 Oct 2011 - Uncategorized